Kemenangan Trump dalam Pemilu AS Beri Angin Segar bagi Hubungan Rusia-AS

Presiden terpilih AS Donald Trump menyambut para pendukungnya di Manhattan, New York, AS, 9 November 2016.

Presiden terpilih AS Donald Trump menyambut para pendukungnya di Manhattan, New York, AS, 9 November 2016.

Reuters
Perbaikan hubungan Rusia dan AS diprediksi akan menjadi prioritas utama.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah memberi ucapan selamat kepada Donald Trump atas kemenangannya dalam pemilihan presiden AS serta berharap sang presiden terpilih mampu membangun kerja sama untuk menyelesaikan krisis dalam hubungan bilateral AS dan Rusia, demikian disampaikan Kremlin, seperti dikutip Sputnik, Rabu (9/11).

Menurut keterangan Kremlin, Putin telah mengirim telegram untuk Donald Trump, memberi selamat atas kemenangannya dalam pemilihan presiden dan berharap Trump akan sukses dalam menjalani tugasnya sebagai kepala negara.

Putin juga berharap bahwa dialog antara Moskow dan Washington, dengan memperhatikan posisi kedua negara, dapat memenuhi kepentingan AS dan Rusia.

“Kami mendengar retorika kampanye Trump saat ia masih menjadi calon presiden, yang hendak fokus dalam memulihkan hubungan antara Rusia dan AS," terang Putin. Rusia siap dan menanti pemulihan hubungan tersebut, tambah Putin. Meski demikian, ia sadar bahwa jalan untuk mewujudkan hal itu akan sulit.

Banyak pengamat yang menilai hubungan Rusia-AS saat ini berada di titik terendah sejak Perang Dingin. Putin terus menekankan bahwa memburuknya hubungan Rusia dengan AS 'bagaimanapun bukan pilihan kami'.

Untuk memperbaiki hubungan Moskow dan Washington, AS pertama dan paling utama harus mulai bersikap sebagai mitra yang setara dan menghormati kepentingan Rusia, bukan terus mencoba mendikte Rusia, kata Putin bulan lalu.

"Kami khawatir dengan memburuknya hubungan Rusia-Amerika, tapi itu bukan pilihan kami, kami tak pernah menginginkannya. Sebaliknya, kami ingin punya hubungan yang bersahabat dengan AS, negara besar dan terkemuka di bidang ekonomi," kata Putin dalam forum ekonomi di Moskow.

Selain itu, AS perlu bernegosiasi dengan Rusia untuk menemukan solusi atas isu internasional karena tak ada negara yang bisa bertindak sendirian, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov minggu lalu, menambahkan bahwa masalah dalam hubungan bilateral mulai menggunung jauh sebelum krisis Ukraina pecah pada 2014.

‘Reset’ Sesungguhnya

Sementara, mantan Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel mengatakan bahwa salah satu prioritas untuk presiden AS selanjutnya ialah ‘reset’ sesungguhnya dengan Rusia, menyebutkan bahwa sentimen anti-Rusia di Amerika telah mencapai titik didih dan berada di level terburuk sejak Perang Dingin, tulis RT.

'Tombol Reset'

Dalam sebuah pertemuan di Jenewa pada 2009, Menlu AS Hillary Clinton menghadiahkan 'tombol reset' untuk Menlu Rusia Sergey Lavrov sebagai simbol untuk memperbaiki hubungan antara kedua negara — sesuatu yang tak pernah terjadi.
Mantan senator Partai Republik dari Nebraska, yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan AS di bawah pemerintahan Barack Obama, menyebutkan bahwa salah satu hal yang perlu dilakukan pemimpin AS selanjutnya ialah menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk me-reset hubungan. Konflik di Timur Tengah dan seluruh dunia bergantung pada hal itu, tambahnya.

"Saya pikir salah satu prioritas untuk presiden selanjutnya adalah melakukan reset sesungguhnya dengan Rusia. Tak hanya tombol, tapi reset sesungguhnya," papar Hagel dalam wawancara dengan harian Jerman Handelsblatt Global, sebelum hasil pemilu AS diumumkan.

"Hal itu harus mencakup semua isu dan harus antara presiden dengan presiden," kata Hagel, menambahkan bahwa sentimen anti-Rusia di AS berada di level terendah saat ini.

Hagel menyebutkan bahwa perlu 'imajinasi' dari presiden AS selanjutnya untuk menutup kesenjangan dengan Rusia dan bergerak maju dalam seluruh konflik global yang berlarut-larut, terutama Suriah.

Duta Besar AS untuk Rusia John Tefft juga menyampaikan pada TASS pada Rabu (9/11) bahwa Rusia akan menjadi salah satu isu utama yang akan menjadi prioritas, bersama dengan konflik Suriah dan Ukraina, dan berharap pemerintahan AS di bawah Trump akan berhasil dalam bidang ini.

Eropa Turut Berharap

Eropa dapat menjadi lebih independen dari AS di bawah kepemimpinan Donald Trump yang baru saja memenangkan pemilihan presiden AS dan hal tersebut akan mendorong AS untuk mengkaji ulang kebijakan anti-Rusia mereka dan mengusulkan reformasi blok besar, demikian disampaikan anggota parlemen Prancis kepada Sputnik, Rabu (9/11).

“Jika Amerika menarik diri dari Eropa, itu adalah kesempatan bagi presiden Prancis untuk kembali mengusulkan kebijakan Gaullisme dengan sudut pandang yang independen. Sehingga, ada kesempatan untuk memanfaatkan dan memulai kembali memandang Rusia, mengusulkan reformasi mendalam di badan Uni Eropa,” kata Nicolas Dhuicq yang merupakan anggota dari Komite Pertahanan Majelis Nasional Prancis.

Pada Maret, Lavrov mengatakan bahwa Uni Eropa sangat dipengaruhi oleh Amerika Serikat. Karena itu, Moskow ingin melihat blok tersebut mampu membuat keputusannya sendiri. Kremlin juga berulang kali menyatakan dukungannya bagi Uni Eropa untuk menjadi organisasi yang otonom, independen, dan mampu menentukan pilihannya sendiri.

Berdasarkan hasil perhitungan suara awal, Trump memperoleh lebih dari 270 suara elektoral, yang menjamin kemenangannya dalam pemilu kali ini — sebuah hal yang mengejutkan karena survei prapemilu memprediksi Clinton akan menang dengan meraih empat persen suara lebih tinggi.

Pemerintahan baru akan membutuhkan periode transisi sebelum pelantikan pada 20 Januari 2017.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.