Hubungan dengan Rusia Kian Tegang, NATO Siap Siagakan 300 Ribu Tentara

Para tentara akan bertugas membantu Pasukan Cepat Tanggap tanggap NATO.

Para tentara akan bertugas membantu Pasukan Cepat Tanggap tanggap NATO.

Reuters
Ini adalah pengerahan tentara NATO terbanyak sejak akhir Perang Dingin.

NATO akan menempatkan ratusan ribu tentara dalam kondisi siaga tinggi menyusul semakin menegangnya hubungan aliansi tersebut dengan Rusia. Rencana ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg dalam wawancara dengan media The Times, Senin (7/11).

“Kami melihat Rusia kini sangat aktif dalam segala aspek. Rusia juga meluncurkan propaganda terhadap para sekutu NATO di Eropa. Hal itulah yang mendorong kami bereaksi. Ini adalah pengerahan pertahanan kolektif tertinggi kami sejak akhir Perang Dingin,” kata Stoltenberg seperti dikutip Sputnik.

Sang pemimpin NATO tak menyebut angka pasti, namun Perwakilan Tetap Inggris untuk NATO Adam Thomson mengatakan bahwa langkah ini akan melibatkan sekitar 300 ribu tentara. Penyiagaan pasukan NATO, terang Thomson, bertujuan mempercepat respons jika terjadi serangan. Sebelumnya, aliansi tersebut membutuhkan waktu 6 bulan untuk mengerahkan pasukan dengan jumlah tersebut, namun kini dengan kebijakan baru tersebut mereka hanya butuh waktu dua bulan untuk menyiapkan ratusan ribu tentara dalam kondisi siap tempur.

Para tentara akan bertugas membantu Pasukan Cepat Tanggap tanggap NATO. Setelah pertemuan NATO bulan Juli lalu, Stoltenberg mengatakan bahwa NATO memutuskan untuk memperkuat kehadiran militernya di Eropa Timur dalam basis rotasi dengan menempatkan empat batalion di Polandia dan di negara-negara Baltik. Sebagai tanggapan, Rusia belum lama ini menempatkan sistem pertahanan misil Iskander ke Kaliningrad yang berbatasan langsung dengan Polandia.

Sejak 2014, NATO terus meningkatkan kehadiran militernya di Eropa, terutama di negara-negara Eropa Timur yang dekat dengan Rusia, menggunakan dalih keterlibatan Moskow dalam konflik Ukraina sebagai alasan. Moskow telah berkali-kali membantah klaim tersebut dan mengingatkan NATO bahwa peningkatan militer di perbatasan Rusia adalah langkah provokatif dan akan mengancam strategi keseimbangan kekuatan yang ada saat ini.

Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini juga kembali menegaskan bahwa Rusia tak berencana menyerang siapa pun. "Kenyataannya, Rusia tak akan menyerang siapa pun. Itu sungguh konyol," kata Putin seperti dikutip Daily Mail.

Ia menambahkan bahwa Rusia sangat menjunjung tinggi kedaulatan dan identitas negerinya. "Kami tak menginginkan dominasi dunia atau ekspansi atau konfrontasi dengan siapa pun," tegas Putin.

Hubungan militer antara NATO-Rusia dibangun sejak 1991 dalam kerangka kerja Dewan Kerja Sama Atlantik Utara. Pada tahun 1990-an, kedua pihak menandatangani sejumlah kesepakatan kerja sama penting. Namun, sejak 1 April 2014, NATO menangguhkan kerja sama dengan Rusia sebagai respon atas krisis Ukraina. Sementara akhir 2014 Putin menandatangani amandemen doktrin militer nasional Rusia yang mencantumkan kehadiran militer NATO di dekat perbatasan Rusia sebagai ancaman militer utama.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.