Tiongkok Masih Menjadi Importir Terbesar Senjata Rusia

Akhir-akhir ini, portofolio pesanan Tiongkok untuk persenjataan Rusia telah tumbuh secara signifikan hingga melebihi 8 miliar dolar AS.

Akhir-akhir ini, portofolio pesanan Tiongkok untuk persenjataan Rusia telah tumbuh secara signifikan hingga melebihi 8 miliar dolar AS.

Tiongkok sudah lama menjadi salah satu importir utama senjata Rusia.

Tiongkok masih menjadi salah satu importir terbesar senjata Rusia. Demikian hal tersebut diungkapkan Sergei Kornev selaku pemimpin delegasi badan ekspor senjata Rusia (Rosoboronexport) dalam Pameran Kedirgantaraan Internasional Airshow China 2016.

"Tiongkok sudah lama menjadi salah satu importir utama senjata Rusia. Saat ini, pangsa total pengiriman ke Tiongkok memang telah menurun. Namun, Tiongkok tetap menjadi salah satu importir senjata Rusia yang terbesar," ujar Kornev.

Pada tahun 1990 hingga 2000-an, Tiongkok dan India adalah importir utama persenjataan Rusia. Tiongkok kemudian beralih memproduksi senjatanya sendiri secara besar-besaran. Meskipun beberapa senjata diciptakan dengan partisipasi Rusia, hal ini tetap berdampak pada menurunnya impor persenjataan sejak 2005. Kontrak-kontrak baru yang disepakati pada 2006 hanya senilai 200 juta dolar AS, sedangkan penawaran pada tahun-tahun sebelumnya diperkirakan mencapai lebih dari  1,5 miliar dolar AS.

Namun demikian, Vedomosti melaporkan bahwa akhir-akhir ini portofolio pesanan Tiongkok untuk persenjataan Rusia telah tumbuh secara signifikan hingga melebihi 8 miliar dolar AS. 

Kornev menambahkan bahwa Rosoboronexport juga mempertahankan kerja sama skala besar dengan India. "Kami berupaya untuk bekerja sama dengan sejumlah negara lain di kawasan Asia-Pasifik. Kami juga memperluas kehadiran kami di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta negara-negara anggota Pakta Pertahanan Keamanan Kolektif (CSTO)," ujar Kornev .

"Di Amerika Latin, kami berhasil membuat sebuah terobosan yang nyata dalam pengembangan kerja sama teknis-militer dengan Argentina, Brasil, dan Venezuela. Selain itu, Rusia kembali bekerja sama dengan negara-negara Afrika selatan. Kerja sama dengan negara-negara tersebut sempat menurun secara signifikan setelah bubarnya Uni Soviet," tambah Kornev.

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.