Assad: Kebijakan Rusia di Suriah Bertumpu pada Moral dan Hukum Global

Presiden Suriah Bashar al-Assad mengaku percaya pada kebijakan Rusia, termasuk dalam operasi militer melawan teroris di negaranya.

Presiden Suriah Bashar al-Assad mengaku percaya pada kebijakan Rusia, termasuk dalam operasi militer melawan teroris di negaranya.

Valery Sharifulin/TASS
Rusia tak pernah meminta Assad menjadi presiden boneka.

Kebijakan Rusia di Suriah selama ini selalu bertumpu pada dua hal, yakni moral dan hukum internasional, demikian disampaikan Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam wawancaranya dengan The Sunday Times, seperti dilaporkan TASS.

Saat ditanya siapa yang melakukan serangan di Aleppo, Damaskus atau Moskow, Assad menjawab, “Tentu Anda sendiri yang memutuskan. Militer Rusia telah berada di Suriah selama enam dekade. Kebijakan mereka hanya bertumpu pada dua hal: moral dan hukum internasional,” kata Assad.

“Bahkan jika mereka memiliki sebuah pandangan, mereka mengatakan, ‘ini negara Anda, Anda lebih tahu.’ Mereka tidak pernah mencoba mencampuri masalah Suriah karena mereka tak menginginkan apa pun dari kami. Mereka tidak meminta kami untuk menjadi presiden boneka,” tutur Assad.

Menurut Assad, Rusia sadar jika Suriah kalah dalam perang melawan terorisme, terorisme akan merajalela di Eropa dan hal tersebut tentu memengaruhi Rusia dan seluruh dunia.

“Dulu jika saya mengatakan sesuatu, orang akan mengatakan bahwa presiden Suriah terputus dari kenyataan. Sekarang berbeda. Negara Barat menjadi lebih lemah. Mereka tidak bisa bertumpu pada kaki mereka sendiri untuk berdiri menjelaskan kepada rakyat apa yang terjadi,” terang Assad.

“ISIS menyelundupkan minyak dan menggunakan lahan minyak Irak di bawah satelit dan drone Amerika untuk menghasilkan uang, dan Barat tidak mengatakan apa pun. Sementara di Suriah, Rusia ikut terlibat dan ISIS benar-benar mulai menyusut,” tambah Assad.

Rusia memulai operasinya melawan kelompok militan di Suriah pada 30 September 2015 atas permintaan Assad. Operasi militer Rusia telah membantu tentara Suriah membebaskan sekitar 400 wilayah pemukiman dan mengacaukan jalur perdagangan minyak ilegal yang merupakan sumber utama pendapatan kelompok teroris. Seluruh rute untuk persediaan besar senjata dan amunisi pun diblokir.

Pada 14 Maret 2016, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan penarikan sebagian besar Angkatan Udara Rusia dari Suriah. Kini, dua fasilitas militer Rusia masih beroperasi di wilayah Suriah, yakni di Hmeimim dan Tartus.

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.