Putin: AS Bukan ‘Republik Pisang’, Pemilu Mereka Sulit Diintervensi

Baik Rusia maupun Putin sering kali disebut selama kampanye pemilihan presiden AS.

Baik Rusia maupun Putin sering kali disebut selama kampanye pemilihan presiden AS.

Mikhail Metzel/TASS
Presiden Rusia Vladimir Putin berpendapat bahwa selama kampanye presiden Amerika, Rusia digunakan untuk mengalihkan perhatian para pemilih dari masalah nyata yang tengah dihadapi oleh AS, termasuk utang negara dan kebrutalan polisi di sana.

Presiden Rusia Vladimir Putin membantah tuduhan bahwa Moskow sedang berupaya mengintervensi pemilihan presiden Amerika, seraya mengatakan bahwa AS bukanlah “republik pisang” yang pemilunya bisa dengan mudah diintervensi.

“Apakah Anda benar-benar berpikir dan menganggap serius bahwa Rusia, entah bagaimana, dapat memengaruhi pilihan rakyat Amerika?” tanya Putin pada pertemuan Klub Diskusi Valdai di Sochi, Kamis (27/10), seperti yang dikutip RT.

“Apakah Amerika semacam ‘republik pisang’?" tanyanya retoris kepada seluruh peserta diskusi. “Amerika kan negara adidaya, tapi tolong koreksi jika saya salah.”

Republik pisang

Republik pisang adalah istilah dalam ilmu politik untuk menyebut negara yang politiknya tidak stabil dan ekonominya sangat bergantung pada ekspor sumber daya terbatas, misalnya pisang. Negara seperti ini biasanya memiliki kelas sosial bertingkat yang meliputi kelas pekerja miskin yang besar dan plutokrasi elit bisnis, politik, dan militer yang berkuasa

Menurut Putin, selama kampanye presiden Amerika, Rusia digunakan untuk mengalihkan perhatian para pemilih dari masalah nyata yang tengah dihadapi oleh AS, termasuk utang negara dan kebrutalan polisi di sana.

“Sepertinya para elit (AS) tidak bisa mengatakan apa pun (selain menuduh Rusia) untuk menenangkan kecemasan rakyatnya atas masalah-masalah mereka,” kata sang presiden.

“Bagi mereka, lebih baik mengalihkan perhatian rakyat AS dengan isu dugaan peretasan oleh Rusia, mata-mata Rusia, agen yang berpengaruh dari Rusia, dan sebagainya dan seterusnya,” tambah Putin.

Menurut Putin, pemilu di Barat kini telah ‘tak lagi berfungsi sebagi sarana perubahan’.

“Ini semua bermuara pada berbagai skandal, saling mengumbar aib dan — maaf — membahas siapa yang mencabuli siapa, siapa yang telah tidur dengan siapa. Ini semua benar-benar telah keluar dari topik,” katanya.

Baik Rusia maupun Putin kerap disebut selama kampanye pemilihan presiden AS, tulis RT.

Kandidat capres dari Partai Demokrat Hillary Clinton menuduh WikiLeaks, yang merilis email dan dokumen-dokumen yang diretas dari juru kampanye Clinton John Podesta dan Komite Nasional Demokrat (DNC), bekerja dengan Moskow.

Menurut Clinton, presiden Rusia sengaja ‘membiarkan penyerang siber untuk meretas arsip-arsip pemerintah (AS), arsip-arsip pribadi, termasuk meretas DNC.’

Clinton juga menuduh kandidat capres dari Partai Republik Donald Trump didukung oleh Kremlin dan berjanji bahwa ia akan ‘membela warga negara AS dan rakyat Rusia perlu memahami situasi ini’.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.