Pakar: Konflik Suriah Lahirkan Tatanan Dunia Baru

Perang di Suriah tak lagi menjadi masalah dalam negeri negara itu karena banyaknya pihak yang baik secara langsung maupun diam-diam turut terlibat dalam pertempuran.

Perang di Suriah tak lagi menjadi masalah dalam negeri negara itu karena banyaknya pihak yang baik secara langsung maupun diam-diam turut terlibat dalam pertempuran.

Reuters
Fondasi tatanan dunia pasca-Perang Dingin akan ambruk karena sejumlah negara tak lagi mampu bertindak sesuai dengan kepentingan mereka sendiri, sementara di sisi lain, mereka juga mengabaikan "kode etik dan hukum" internasional. Demikian hal itu diungkapkan analis Rusia Timofei Bordachev dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan situs Lenta.ru.

Bordachev, yang memimpin Pusat Studi Eropa dan International di Sekolah Tinggi Ekonomi (HSE), menyebut bahwa hal ini sebagai menjadi kunci tren yang akan membentuk tatanan dunia di masa depan. Menurutnya, ‘tatanan dunia’ baru ini telah terpapar oleh krisis Suriah. 

Situasi di sekitar negara Arab yang diperangi "jelas telah membawa kita kembali ke era persaingan kekuatan besar," ujarnya, seperti yang dikutip Sputnik. Ia juga menambahkan bahwa negara-negara NATO, monarki Teluk, Rusia, Iran, dan Tiongkok telah terlibat dalam konflik ini hingga tingkat yang berbeda.

Negara-negara ini telah terbagi menjadi kamp-kamp ​​atau, sebagaimana yang disebut Bordachev, ‘pendukung tim’. Menurut Bordachev, baik Rusia, Tiongkok, maupun Iran secara de jure tidak memperjuangkan Suriah untuk melawan AS dan sekutunya di Eropa dan Teluk. Namun, perang proksi antara mereka kini tengah berlangsung.

Krisis Suriah sekilas menawarkan apa yang mungkin akan terjadi pada musim gugur 2013, ketika upaya diplomatik Rusia mencegah AS dan sekutunya untuk melakukan kampanye militer terhadap Damaskus. Menurut sang analis, hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh siapa pun setelah berakhirnya Perang Dingin.

Pencapaian kedua terjadi tahun lalu ketika Rusia resmi terlibat dalam konflik Suriah atas permintaan resmi dari Damaskus. Pada saat itu, perang tak lagi menjadi masalah dalam negeri Suriah karena negara-negara lain, termasuk AS dan sekutu-sekutunya, serta aktor non-negara, baik secara langsung maupun diam-diam telah ikut terlibat dalam pertempuran.

Hasil dari "kebuntuan multilevel" di Suriah belum ditentukan, tetapi salah satu implikasi penting dari konflik tersebut menjadi semakin jelas.

"Masa ketika sekelompok kecil negara menikmati hak untuk bertindak berdasarkan kepentingan mereka sendiri, sementara mereka mengabaikan kode etik dan hukum internasional telah berakhir. Hal ini sangat penting untuk memahami apa yang sebenarnya menanti kita di masa depan dan apa yang harus dilakukan untuk membuat dunia — jika berubah menjadi tidak lebih aman — tidak terlalu berbahaya" ujar sang analis.

Namun menurut Bordachev, ini bukan berarti bahwa negara-negara lain secara terbuka akan menantang Barat atau memicu konflik dengan AS dan mitra-mitranya. 

"Sekelompok negara tidak akan menantang Barat, melainkan hanya akan bertindak di arena internasional yang mereka anggap cocok dan melakukan apa yang sesuai dengan kepentingan nasional mereka," kata Bordachev menambahkan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.