AL Rusia Temukan Jasad Korban Kelompok Teroris di Perairan Suriah

Damaskus meminta AL Rusia untuk mengangkut jasad warga sipil yang dibunuh.

Kapal-kapal armada Rusia yang beroperasi di perairan Suriah menemukan jasad perempuan dan anak-anak yang dibunuh kelompok teroris di utara Suriah. Demikian hal itu disampaikan tentara Angkatan Laut Rusia kepada RIA Novosti di Sevastopol, Krimea.

"Para awak kapal sering kali menemukan jasad warga sipil yang dibunuh secara brutal oleh teroris di sekitar utara Suriah. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Kemudian, para awak kapal mengambil jasad-jasad yang mengambang di perairan tersebut dan membawa mereka ke Tartus untuk kemudian dimakamkan sesuai dengan tradisi Islam," ujar seorang prajurit dan angkatan laut, seperti yang dikutip Sputnik.

Sang prajurit mengatakan bahwa pihak berwenang Suriah, dalam beberapa kesempatan, telah meminta para marinir Rusia untuk mengangkut jasad warga sipil Suriah yang dibunuh teroris.

"Terakhir, kapal mengumpulkan lebih dari sepuluh jasad. Jasad-jasad itu berada di laut sebelah utara dengan jarak sekitar 320 kilometer dari Tartus. Tidak ditemukan luka tembak pada jasad-jasad korban. Mereka dibunuh bukan dengan senjata api," kata sang narasumber.

Sebagian besar wilayah utara Suriah berada di bawah kendali kelompok-kelompok radikal, termasuk Front Nusra, cabang kelompok al-Qaeda di Suriah.

Juru Bicara Menteri Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan bahwa Front Nusra telah memanfaatkan perjanjian perdamaian Rusia dan AS untuk kembali membangun kelompoknya di dekat kota Aleppo, Suriah utara.

"Ketika saat itu seharusnya perjanjian diimplementasikan, Front Nusra membangun kembali kelompoknya, mengatur kembali segala pasokan mereka, termasuk persenjataan," ujar Zakharova.

Zakharova juga menjelaskan bahwa perjanjian Rusia-AS terkait Suriah yang ditetapkan pada September lalu seharusnya bisa menjamin bahwa tidak ada satu pun konflik di Suriah yang menggunakan koridor kemanusiaan untuk pemasokan senjata.

Menurut Zakharova, pemerintah Suriah masih memaksa untuk menerapkan perjanjian, tetapi tidak ada seorang pun yang menerapkannya dengan baik. 

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.