Oposisi Suriah Sebut Kebijakan Obama dalam Selesaikan Krisis Suriah ‘Lemah’

Progres dalam pembentukan pemerintahan transisi tak pernah tercapai.

Kelompok oposisi Komite Negosiasi Tingkat Tinggi (HNC) Suriah mengecam Presiden Amerika Serikat Barack Obama atas ‘kelambanannya’ dalam menyelesaikan krisis Suriah, demikian hal itu diungkapkan Koordinator HNC Riad Hijab, seperti yang dikutip Sputnik.

"Sejak Juli 2011, Presiden Obama telah mengatakan bahwa Bashar al-Assad telah kehilangan legitimasinya. Obama mengatakan bahwa Assad harus pergi karena ia telah menggunakan senjata dan membunuh warga Suriah. Namun, tindakan apa yang telah diambil Obama terhadap Bashar al-Assad? Tidak ada. Dia hanya berbicara dan berpidato," ujar Hijab kepada saluran Al Jazeera, Jumat (30/9). 

Menurut Hijab, meskipun ada kesepakatan gencatan senjata, berbagai konferensi, dan upaya diplomatik, progres dalam pembentukan pemerintahan transisi tak pernah tercapai. Ia menilai, kebijakan Obama mengenai isu pembentukan pemerintahan transisi penuh "keraguan dan lemah". 

Suriah telah terjebak dalam perang sejak 2011. Peperangan ini melibatkan antara pasukan pemerintahan yang setia kepada Presiden Bashar Assad dan sejumlah oposisi dan kelompok-kelompok ekstremis.

Atas permintaan Presiden Suriah Bashar Assad, Rusia melancarkan operasi militernya terhadap teroris di Suriah sejak 30 September 2015. Hingga Maret 2016, pasukan udara Rusia telah melakukan lebih dari 9.000 serangan mendadak. Dukungan militer Rusia telah membantu Damaskus mengubah gelombang peperangan dan membuat angkatan bersenjata Suriah mampu meluncurkan berbagai serangan di wilayah-wilayah kunci di negaranya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.