Kemenlu Rusia: Hasil Investigasi Kecelakaan MH-17 Tegaskan Adanya Bias

Para wartawan mengambil gambar puing-puing badan pesawat MH-17 yang telah direkonstruksi setelah presentasi laporan akhir Dewan Keselamatan Belanda atas apa yang menyebabkan kecelakaan pesawat Malaysia Airlines di atas langit Ukraina pada 2014 lalu.

Para wartawan mengambil gambar puing-puing badan pesawat MH-17 yang telah direkonstruksi setelah presentasi laporan akhir Dewan Keselamatan Belanda atas apa yang menyebabkan kecelakaan pesawat Malaysia Airlines di atas langit Ukraina pada 2014 lalu.

AP
Rusia mengaku kecewa dengan hasil investigasi kecelakaan MH-17.

Hasil penyelidikan kecelakaan MH17 yang dilakukan Tim Investigasi Gabungan (JIT) yang dipimpin Belanda menegaskan adanya bias dalam investigasi tersebut. Demikian hal itu diungkapkan Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan pada Rabu (28/9), seperti yang dikutip Sputnik. Selain itu, Rusia juga merasa kecewa dengan hasil investigasi kecelakaan pesawat MH17 yang jatuh di Ukraina.

"Rusia kecewa ketika mengetahui bahwa investigasi terkait kecelakaan MH-17 tidak berubah. Kesimpulan jaksa Belanda menegaskan bahwa kasus ini bias dan bermotif politik," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam sebuah pernyataan. 

Pada 17 Juli 2014 lalu, pesawat Boeing 777 milik Malaysia Airlines (kode penerbangan MH-17) dengan rute Amsterdam menuju Kuala Lumpur jatuh di dekat Donetsk, Ukraina. Kejadian ini menewaskan 298 orang. 
Menurut Zakharova, Ukraina dijadikan sebagai anggota JIT meskipun fakta menyatakan bahwa negara itu sebagai pihak yang berkepentingan. 

"Memang hal tersebut terdengar seperti lelucon yang kejam, tetapi Ukraina dijadikan anggota JIT. Ini memberikan Ukraina peluang untuk memalsukan bukti dan mengembangkan kasus ini demi keuntungan mereka. Semua hal disebut sebagai ‘bukti dasar’ dari tuntutan Belanda diperoleh berdasarkan data yang diberikan lembaga-lembaga Ukraina, yang tentunya menjadi memiliki kepentingan,"ujar Zakharova. 

Zakharova menyatakan harapannya bahwa situasi akan berubah setelah Rusia memberi "bukti yang tak terbantahkan, seperti data radar primer." 

"Kesimpulan akhir dari penyelidikan akan berubah menjadi kebenaran yang objektif dan akhirnya akan mengarah pada penyebab nyata dalam tragedi ini," pungkasnya.

Sebelumnya, JIT mengumumkan bahwa pesawat diduga jatuh akibat terhantam misil Buk yang dibawa dari Rusia. Lebih lanjut, hasil penyelidikan meyakini bahwa rudal tersebut diluncurkan dari wilayah yang dikuasai oleh milisi Donbas.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.