Abaikan Ajakan Putin, Operasi Antiteroris Barat Berada di Ambang Kegagalan

Pemimpin Rusia telah berulang kali ‘memanggil’ negara-negara lain, khususnya Amerika Serikat, untuk bergabung dan mengalahkan sesuatu yang dirasakan Kremlin sebagai salah satu tantangan global terbesar yang dihadapi setiap negara: terorisme internasional.

Pemimpin Rusia telah berulang kali ‘memanggil’ negara-negara lain, khususnya Amerika Serikat, untuk bergabung dan mengalahkan sesuatu yang dirasakan Kremlin sebagai salah satu tantangan global terbesar yang dihadapi setiap negara: terorisme internasional.

AP
Pada 2015, Presiden Obama memperingatkan bahwa Rusia hanya akan berakhir dan "terjebak dalam rawa" Suriah, sementara operasi anti-ISIS Rusia "hanya akan berjalan" kurang dari seminggu setelah Angkatan Udara Rusia melakukan misi pertama mereka di Suriah.

Setahun yang lalu, 28 September 2015, Presiden Rusia Vladimir Putin bertanya kepada para pemimpin Barat apakah mereka mengerti dengan tindakan yang telah mereka lakukan di Timur Tengah serta mendesak mereka untuk membentuk koalisi antiterorisme. Dua belas bulan berlalu, Barat tetap tak bisa membuat pilihan yang tepat. Demikian hal itu disampaikan analis politik Dmitry Kosyrev yang menulis untuk RIA Novosti.

Keterlibatan militer Rusia di Suriah adalah sebuah bukti yang juga bisa dicapai jika Washington memutuskan untuk bergabung dengan Moskow dan melawan kelompok teroris, seperti ISIS dan al-Nusra, bersama-sama. 

Menurut pengamatan Kosyrev, penggunaan kekuatan militer Rusia yang minimalis dan selektif ternyata berhasil membawa Suriah keluar dari kebuntuan peperangan, bukan dalam satu tahun, melainkan dalam tiga hingga empat bulan pertama sejak dimulainya operasi militer Rusia di negara itu.

"Gelombang peperangan berubah, dan posisi Rusia meningkat secara drastis tak hanya di Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia," kata Kosyrev, seperti yang dikutip Sputnik

Selama ini, pemimpin Rusia telah berulang kali ‘mengajak’ negara-negara lain, khususnya Amerika Serikat, untuk bergabung dan mengalahkan sesuatu yang dirasakan Kremlin sebagai salah satu tantangan global terbesar yang dihadapi setiap negara, yaitu terorisme internasional.

"Yang kami usulkan adalah bekerja sama demi mengatasi tantangan yang kita semua hadapi dengan membuat koalisi internasional untuk melawan terorisme," katan Presiden Putin dalam Sidang Majelis Umum PBB pada 2015 lalu. "Serupa dengan koalisi anti-Hitler, hal ini bisa menyatukan berbagai pihak yang bersedia untuk berdiri tegak melawan orang-orang, seperti Nazi, yang menabur kejahatan dan kebencian dalam kehidupan manusia." 

Putin memperingatkan bahwa beberapa orang mungkin akan menggunakan gagasan ini sebagai alasan untuk menuduh Rusia dari ambisinya untuk tumbuh kuat, seolah-olah mereka sendiri tidak memiliki ambisi. "Ini bukan mengenai ambisi Rusia, rekan-rekan terhormat, tetapi tentang pengakuan bahwa kita tidak bisa lagi menoleransi kondisi dunia saat ini," kata Presiden Putin dalam pidatonya satu tahun lalu.

Barat telah gagal menerima tawaran Rusia. Mungkin hal ini ada hubungannya dengan fakta bahwa AS dan sekutunya yang meremehkan kemampuan operasi antiterorisme Moskow.

Setahun lalu, Presiden Obama memperingatkan bahwa Rusia hanya akan berakhir dan "terjebak dalam rawa" Suriah, sementara operasi anti-ISIS Rusia "hanya akan berjalan" kurang dari seminggu setelah Angkatan Udara Rusia melakukan misi pertama mereka di Suriah. 

"Mereka juga telah salah memperhitungkan implikasi politik Rusia dalam menampilkan militernya," ujar Kosyrev. "Mereka gagal untuk memprediksi bahwa Rusia yang 'terisolasi' akan menemukan dirinya di pusat politik global dan semua orang akan membutuhkan Moskow. Mereka tidak memprediksi bahwa ekonomi Rusia akan melewati masa-masa yang sulit dan menjadi lebih baik." 

Lebih lanjut, Kosyrev mengatakan bahwa AS dan sekutunya kini telah gagal. "Kami mendesak mereka untuk membentuk koalisi, kami menawarkan kerja sama dan kampanye bersama," ujarnya. "Seandainya mereka menyambut tawaran itu, hari ini kita akan merayakan kemenangan yang manis bersama-sama."

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.