Pakar: Tingkat Ketidakpercayaan Antara Moskow dan Washington Sangat Tinggi

Utusan Rusia untuk PBB Vitaly Churkin mengatakan jika posisi Washington terus berubah maka ini akan membuat situasi menjadi semakin rumit,

Utusan Rusia untuk PBB Vitaly Churkin mengatakan jika posisi Washington terus berubah maka ini akan membuat situasi menjadi semakin rumit,

EPA / Vostock-photo
Setelah diadakannya pertemuan darurat DK PBB pada Minggu (25/9) lalu, Evgeniy Buzhinsky, seorang analis politik, menyebutkan kepada RIA Novosti bahwa dampak paling buruk yang mungkin terjadi atas meruncingnya perbedaan antara Rusia dan Barat terkait Suriah adalah babak baru sanksi terhadap Rusia, yang kali ini karena Suriah. Menurutnya, saat ini bahkan tidak ada resolusi yang mungkin bisa diambil.

Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat untuk membahas situasi di Aleppo pada Minggu lalu. Dalam pertemuan yang digagas oleh AS, Inggris, dan Prancis tersebut dibahas seputar serangan pasukan pemerintah Suriah terhadap Jabhat Fatah Al Sham — yang sebelumnya bernama Front Nusra — dan kelompok yang disebut sebagai oposisi bersenjata.

Dalam pertemuan tersebut, para diplomat Barat mengecam pemerintah Rusia dan Suriah. Menanggapi hal tersebut, Utusan Rusia untuk PBB Vitaly Churkin mengatakan bahwa perjanjian Rusia-AS di Suriah tidak gagal. Namun, jika (posisi) Washington terus berubah maka ini akan membuat situasi menjadi semakin rumit, demikian dilaporkan Sputnik

"Kami telah menjelaskan posisi kami secara jelas. Kami membutuhkan proses yang serius, tanpa kecurangan, tanpa orang-orang yang inkonsisten dengan mengubah sikap mereka setiap dua hari. Kesepakatan dapat tercapai dan satu-satunya hal yang dibutuhkan adalah bagaimana pelaksanaannya, bukan bagaimana mengubah posisi. Jika mereka terus melakukan hal ini maka akan sangat sulit untuk menerapkan proses yang serius," ujar Churkin kepada para wartawan, Minggu (25/9).

Tak Ada Resolusi

"Dewan Keamanan PBB tidak bisa mengadopsi resolusi karena Rusia akan memvetonya," ujar Buzhinsky. "Namun demikian, perang antara Rusia dan Barat juga tidak mungkin terjadi. Hal yang mungkin terjadi adalah munculnya sanksi baru (terhadap Rusia) dan kali ini terkait dengan Suriah."

Perjanjian antara Rusia dan Amerika Serikat atas Suriah memang hampir gagal, tetapi baik Washington maupun Rusia tidak ingin mengatakan hal itu secara terbuka. Demikian dikatakan analis politik Fyodor Lukyanov. 

"Situasi di Suriah saat ini menemukan kebuntuan. Ini terjadi bukan karena perjanjian tersebut tidak dilakukan dengan baik. Alasannya adalah bahwa dalam konflik semacam ini, ada keseimbangan kekuasaan (balance of power) yang khas di negara itu. Ini jelas bahwa tidak ada solusi militer untuk menyelesaikan konflik, tetapi pada saat yang sama, tidak ada satu pun yang siap untuk menerapkan solusi politik karena masing-masing pihak berusaha untuk mengubah situasi di lapangan untuk kepentingannya masing-masing," kata Lukyanov kepada media online Rusia Vzglyad.

Dalam hubungan internasional, keseimbangan kekuasaan mengacu pada keseimbangan antara negara-negara atau aliansi untuk mencegah satu entitas menjadi terlalu kuat. Dengan keseimbangan ini, negara tersebut tidak dapat memaksakan kehendaknya atau mengganggu kepentingan negara lain.

Masalah lainnya adalah tingginya tingkat ketidakpercayaan antara Moskow dan Washington, yang sudah muncul jauh sebelum adanya krisis Suriah.

"Selain itu, tidak ada kesepakatan mengenai Suriah di Washington. Departemen Luar Negeri dan Presiden Barack Obama ingin adanya kemajuan Suriah, tetapi Pentagon berusaha untuk menyabotase perjanjian," ujar sang pakar.

"Tidak mungkin menyelesaikan krisis Suriah dalam persyaratan yang tidak dapat diterima Rusia," ujar pakar politik Evgeniy Satanovskiy. 

Selain itu, menurut Buzhinsky, Barat masih berusaha membujuk Rusia untuk berhenti mendukung Presiden Suriah Bashar Assad. "Namun, hanya warga Suriah yang dapat memutuskan masa depan presidennya," kata Buzhinsky.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.