Uni Eropa Tolak Akui Hasil Pemilihan Parlemen Rusia di Krimea

UE menolak mengakui pemilihan parlemen Rusia yang diadakan di Krimea.

Uni Eropa menolak untuk mengakui pemilihan parlemen Rusia yang diadakan di Krimea dan mendesak pemerintah Rusia untuk  mengatasi tantangan demokrasi, kata Juru bicara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini dalam sebuah pernyataan, Senin (19/9), seperti yang dikutip Sputnik.

"Uni Eropa tidak mengakui aneksasi ilegal Federasi Rusia terhadap Krimea dan Sevastopol. Oleh karena itu, Uni Eropa juga tidak mengakui penyelenggaraan pemilu parlemen Rusia di Semenanjung Krimea," bunyi peryataan yang tertera pada European External Action Service (EEAS). 

Sebagaimana yang tercatat dalam pernyataan EEAS, pemilu parlemen di Rusia telah "dijalankan secara transparan". Namun, selama pemilu berlangsung, ada beberapa tantangan tertentu, termasuk “pembatasan kebebasan fundamental dan hak-hak politik”.  

Pada Minggu (18/9), seluruh warga negara Rusia, termasuk di wilayah Krimea, memberikan hak suara mereka untuk memilih anggota parlemen majelis rendah Rusia. Untuk pertama kalinya sejak bergabung kembali dengan Rusia pada Maret 2014, warga di Semenanjung Krimea juga ikut berpartisipasi dalam pemilihan tersebut.

Krimea menjadi bagian dari Federasi Rusia pada Maret 2014 ketika lebih dari 96 persen warga Krimea memilih untuk mendukung untuk melepaskan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia dalam sebuah referendum. Referendum itu terjadi karena presiden yang terpilih secara demokratis digulingkan dalam suatu kudeta penuh kekerasan di Kiev, yang diikuti oleh perubahan pemerintahan Ukraina yang didukung kelompok nasionalis.

Namun, Kiev dan Barat tidak mengakui reunifikasi tersebut dan menganggap Semenanjung Krimea sebagai suatu wilayah yang diduduki Rusia.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.