Tentara Suriah Tembak Pesawat Pengintai AS

Drone tersebut dikabarkan berhasil meninggalkan wilayah udara Suriah.

Pesawat pengintai AS dilaporkan ditembak di Suriah pada Minggu (18/9), setelah sehari sebelumnya jet Amerika mengebom pasukan Suriah yang dikepung teroris ISIS di lokasi yang sama, demikian dilansir Sputnik.

Berdasarkan laporan Press TV, Tentara Suriah menembak pesawat tanpa awak (UAV) AS yang terlihat mengudara di atas gunung di daerah Jabal Therdeh, yang terletak di sebelah timur Suriah. Kantor berita AMN menyebutkan bahwa tembakan tersebut dilepaskan oleh Brigade Artileri ke-137 dari Divisi Tank ke-17 Tentara Arab Suriah. Namun demikian, drone tersebut dikabarkan berhasil meninggalkan wilayah udara Suriah.

Sebelum serangan koalisi AS pada Sabtu (17/9) yang menewaskan sedikitnya 62 prajurit Tentara Suriah dan melukai lebih dari seratus personel, Suriah membuka wilayah udaranya bagi pesawat AS. Namun setelah insiden itu, situasi kini menjadi tidak stabil.

Tentara Suriah dilaporkan berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah yang dikuasai ISIS pada Sabtu lalu, saat para ekstremis "secara tak sengaja" mendapat keuntungan dari serangan koalisi pimpinan AS terhadap pasukan Suriah.

Dikabarkan pula, AU Suriah, dengan dukungan pesawat-pesawat tempur Rusia, juga melakukan serangkaian serangan udara di pangkalan udara Deir ez-Zor dan daerah yang dikuasai ISIS, di sepanjang area yang menghubungkan Deir ez-Zor dan Maydeen.

Pada Sabtu (17/9), empat jet pimpinan koalisi AS, dua pesawat Angkatan Udara AS F-16, dua pesawat A-10, serta sebuah pesawat tempur tak berawak mengepung posisi pertahanan kunci Tentara Suriah yang berada sekitar enam kilometer sebelah selatan bandara Deir ez-Zor. Serangan tersebut mendapat reaksi keras dari Rusia dan Suriah. Keduanya menuduh bahwa serangan udara tersebut dilakukan secara sengaja. Namun, Pentagon mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan sebuah "kecelakaan" dan Gedung Putih mengungkapkan "penyesalan" atas "hilangnya nyawa pasukan Suriah yang tak disengaja."

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.