Pengamat Timteng: Serangan ‘Tak Disengaja’ AS Adalah Kemunafikan Luar Biasa

Tindakan AS melanggar gencatan senjata yang disepakati.

Serangan pasukan koalisi pimpinan AS terhadap Tentara Suriah bukan kesalahan yang tak disengaja, kata Hafsa Kara-Mustapha, seorang pengamat dan komentator masalah Timur Tengah kepada Sputnik.

"Ini bukanlah sebuah kesalahan tak disengaja dan sama sekali tidak bisa dianggap begitu, terutama karena tidak mungkin ada serangan militer selama periode gencatan senjata yang telah disepakati. Pesawat Amerika tidak punya urusan untuk terbang apalagi melancarkan serangan di sana selama periode gencatan senjata yang disepakati telah diumumkan secara resmi," kata Kara-Mustapha.

Sang analis menambahkan bahwa tindakan itu melanggar gencatan senjata yang disepakati. Selain itu, ia percaya bahwa militer AS yang dilengkapi dengan berbagai peralatan militer terbaik pasti bisa menentukan siapa yang hendak diserang dan di mana posisi mereka. "Itu sangat jelas bahwa target mereka adalah militer Suriah. Alasan yang menyebutkan insiden itu sebagai ketidaksengajaan benar-benar konyol."

"Insiden tersebut pada dasarnya memberikan keuntungan bagi ISIS. Sebelumnya, mereka dikepung; kekuatan mereka jauh melemah akibat gempuran militer Suriah dan Rusia. Namun, serangan Amerika yang membunuh puluhan tentara Suriah dan melukai ratusan lainnnya ini memberikan keuntungan bagi kelompok teroris," kata Kara-Mustapha.

Lebih lanjut, ia berbicara tentang rapat darurat PBB yang diminta pihak Rusia demi membahas insiden ini dan bagaimana duta besar AS untuk PBB kemudian menyebut seruan tersebut sebagai "aksi pura-pura" Rusia.

"Fakta bahwa AS mengeluh menjadi korban 'aksi pura-pura', padahal mereka benar-benar melanggar gencatan senjata, adalah suatu kemunafikan yang luar biasa," kata analis.

Kara-Mustapha kemudian berbicara tentang ketidakjujuran dan bagaimana AS secara terang-terangan menunjuk pihak lain untuk disalahkan. "Inilah cerminan bangsa yang telah tidak jujur dalam berhubungan dengan Timur Tengah selama hampir satu abad terakhir."

Sang analis mengatakan, "Kita telah melihat hasil dari intervensi Amerika di Irak. Intervensi itu melahirkan ISIS dan kita tahu bahwa banyak 'boneka-boneka' ISIS yang dipelihara dan dibesarkan di kamp-kamp. Apa yang kini muncul ke permukaan adalah sesuatu yang jelas bagi kita semua mengenai keterlibatan AS dengan ISIS," katanya menjelaskan.

Kara-Mustapha mengatakan bahwa apa yang dianggap sebagai konspirasi dua sampai tiga tahun lalu, bahwa kepentingan ISIS dan AS beririsan satu sama lain, kini menjadi cukup jelas terbukti.

Serangan pesawat koalisi pimpinan AS di dekat Bandara Deir ez-Zor pertama kali dilaporkan oleh Tentara Suriah pada Sabtu (17/9). Kementerian Pertahanan Rusia kemudian mengonfirmasi bahwa serangan tersebut telah menewaskan 62 prajurit dan melukai 100 orang lainnya. Pusat Komando AS (CENTCOM) mengatakan bahwa insiden itu sama sekali "tak disengaja". CENTCOM berjanji akan meninjau dengan cermat insiden tersebut.

Militer Suriah menyebut pengeboman tersebut sebagai "agresi serius dan terang-terangan" terhadap pasukan Suriah, dan mengatakan itu adalah "bukti" bahwa AS dan sekutunya mendukung militan ISIS.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.