Pakar: Jika Sekutu AS yang Dibom Rusia, Mereka Akan Mencecar Habis-habisan

AS sangat tidak nyaman dalam hubungan baru mereka dengan Rusia.

Jika Rusia mengebom sekutu Washington di Suriah sebagaimana serangan "tak disengaja" yang dilakukan AS terhadap Tentara Suriah pada Sabtu (17/9) lalu, Duta Besar AS untuk PBB Samantha Power tentu telah mencecar Rusia sekeras mungkin yang ia bisa, kata Joshua Landis dari Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Oklahoma, AS, seperti yang dikutip RT.

Menurut Landis, AS sangat tidak nyaman dalam hubungan baru mereka dengan Rusia terkait kesepakatan gencatan senjata.

"Seperti yang telah kita dengar, Departemen Pertahanan sangat tidak nyaman dengan ini. AS bukan hanya telah salah sasaran dan menewaskan puluhan Tentara Suriah, tapi juga telah menanggung malu setelah diusir dari salah satu kota di Suriah utara kemarin," kata Landis.

Pernyataan Landis tersebut mengacu pada insiden ketika sekelompok kecil pasukan khusus AS dilaporkan melarikan diri dari kota al-Rai yang berada di dekat perbatasan Turki setelah diancam oleh para pejuang pemberontak. Tentara Pembebasan Suriah (FSA), yang dianggap sebagai sekutu Amerika, justru menendang militer AS keluar dari kota itu dan menyebut mereka kafir" dan "tentara salib."

"Ini adalah kejadian yang sangat memalukan bagi AS karena milisi moderat ini seharusnya menyambut AS," tambah Landis.

Mengomentari retorika Power di DK PBB, menurutnya, "AS tidak ingin berlutut di depan Rusia dan meminta maaf".

"AS memiliki sejarah panjang yang kompetitif dengan Rusia, entah itu di Ukraina atau di Suriah. Saya yakin, jika kejadian ini melibatkan Rusia, dan jika ternyata sekutu Amerikalah yang dibom oleh Rusia, Dubes Power akan mencela Rusia habis-habisan — memang itulah tugasnya," kata Landis pada RT. "AS jelas sebagai pihak yang bersalah. Mereka mencoba menangkis tuduhan yang membuat mereka berada pada posisi yang disalahkan dalam situasi ini dengan menuduh Rusia karena telah bersekutu dengan Assad — musuh AS," katanya menambahkan.

Pada Sabtu (17/9), koalisi pimpinan AS melakukan serangan udara terhadap Angkatan Darat Suriah di sebelah timur kota Deir ez-Zor, Suriah. Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi bahwa sebanyak 62 orang tewas akibat serangan tersebut.

Serangan udara ini segera diikuti oleh adu mulut antara AS dan Rusia pada rapat Dewan Keamanan PBB, Sabtu malam.

"Hal ini sangat mencurigakan karena Amerika Serikat memilih untuk melakukan serangan udara yang tak biasa ini," kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin, seperti yang dikutip RT.

Di lain pihak, Samantha Power, utusan AS untuk PBB berkomentar pedas bahwa Rusia seharusnya "malu" atas "aksi pura-pura" yang menyerukan rapat darurat Dewan Keamanan PBB segera setelah pengeboman.

Gencatan senjata Suriah mulai berlaku pada awal pekan lalu. Namun, kini banyak yang mempertanyakan apakah kesepakatan terobosan antara Rusia dan AS ini hanya akan berumur pendek.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.