Kemenlu Rusia Tantang Pejabat AS Lihat Kondisi di Suriah Secara Langsung

Pada Sabtu sore, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dengan pedas mengatakan bahwa satu-satunya penjelasan yang masuk akal atas serangan koalisi terhadap Tentara Suriah yang diikuti dengan serangan besar-besaran oleh pejuang ISIS adalah karena Amerika Serikat "membela ISIS".

Pada Sabtu sore, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dengan pedas mengatakan bahwa satu-satunya penjelasan yang masuk akal atas serangan koalisi terhadap Tentara Suriah yang diikuti dengan serangan besar-besaran oleh pejuang ISIS adalah karena Amerika Serikat "membela ISIS".

Sergey Pyatakov/RIA Novosti
Kementerian Luar Negeri Rusia menanggapi dengan pedas atas pernyataan Duta Besar AS untuk PBB Samantha Power yang mengatakan bahwa Rusia seharusnya "malu" atas "aksi pura-pura" yang menyerukan rapat darurat Dewan Keamanan PBB segera setelah bom pasukan koalisi pimpinan AS menewaskan 80 personel Tentara Suriah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova merespons pernyataan Dubes AS untuk PBB Samantha Power setelah sang utusan Amerika mengutuk Rusia yang menyerukan pertemuan darurat atas kematian 80 pasukan Tentara Suriah akibat serangan yang dilancarkan koalisi pimpinan AS yang sekaligus melanggar perjanjian gencatan senjata. Demikian hal tersebut dilaporkan Sputnik.

Samantha Power yang hadir pada rapat DK PBB justru sama sekali tidak mengungkapkan penyesalan atas insiden yang merenggut nyawa puluhan personel militer Suriah. Sebaliknya, ia justru menyerang balik Rusia dan rezim Assad dengan menyebut pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB sebagai "aksi pura-pura" dan "permainan" Rusia. Power juga dengan keras menyebut Rusia hanya "mencari sensasi" dan menuduh Moskow atas "serangan terhadap warga sipil".

Pernyataan agresif Power, yang dikeluarkan hanya beberapa jam setelah pengeboman — yang meski diakui Amerika Serikat sebagai hal yang "tak disengaja" — telah menewaskan banyak Tentara Suriah dan sekaligus telah melanggar perjanjian gencatan senjata, ditanggapi lebih pedas oleh Zakharova.

"Samantha Power tersayang, untuk mengetahui arti makna kata 'malu", saya sarankan Anda untuk pergi ke Suriah dan berbicara langsung dengan orang-orang di sana," kata Zakharova. "Tentu, maksud saya, bukan berbicara dengan militan al-Nusra, ataupun oposisi moderat, yang sepertinya kondisi mereka sangat dikhawatirkan Washington. Saya juga tidak mengacu kepada prajurit-prajurit Barat yang berusaha menegakkan keadilan bagi Suriah. 'Orang-orang' yang saya maksud mengacu pada warga sipil di sana yang terus berjuang untuk hidup di tengah percobaan berdarah yang telah dilancarkan di tanah air mereka selama lebih dari enam tahun, yang melibatkan partisipasi Washington," katanya melanjutkan.

"Mari kita pergi ke sana bersama-sama. Jika Anda berani, Anda akan bilang 'iya'. Jangan takut. Tidak akan ada yang melayangkan jari (tengah) pada Anda di hadapan saya. Asalkan, tentu saja, orang-orang Anda jangan lagi 'keliru' dalam menyasar target. Setelah itu, seiiring waktu, Anda akan punya begitu banyak pengalaman baru dan sadar apa makna 'malu' sebenarnya."

Gencatan senjata Suriah mulai berlaku pada awal pekan lalu. Namun, kini banyak yang mempertanyakan apakah kesepakatan terobosan antara Rusia dan AS ini hanya akan berumur pendek.

Menyusul insiden serangan udara di Deir ez-Zor, pada Sabtu (17/9), Pusat Komando AS (CENTCOM) lebih dulu mengeluarkan pernyataan resmi dan mengakui bahwa pasukan koalisi bertanggung jawab atas tewasnya puluhan Tentara Suriah. Namun demikian, mereka mengatakan bahwa Rusia juga "berbagi tanggung jawab" atas insiden ini karena koalisi diduga telah memperingatkan Moskow bahwa pasukan koalisi bermaksud untuk menyerang daerah Deir Ez-Zor. Rusia pun segera membantah klaim tersebut dan mengatakan bahwa AS tidak memberikan peringatan apa pun.

Pada Sabtu sore, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia dengan pedas mengatakan bahwa satu-satunya penjelasan yang masuk akal atas serangan koalisi terhadap Tentara Suriah yang diikuti dengan serangan besar-besaran oleh pejuang ISIS adalah karena Amerika Serikat "membela ISIS".

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.