Ciptakan Zona Demiliterisasi, Tentara Suriah Tarik Peralatan Militer Berat

Unit-unit pertahanan diri masyarakat, seperti 'Bustan' dan 'Shield', kini berjaga untuk mempertahankan pos pemeriksaan di Jalan Castello.

Unit-unit pertahanan diri masyarakat, seperti 'Bustan' dan 'Shield', kini berjaga untuk mempertahankan pos pemeriksaan di Jalan Castello.

Reuters
Angkatan Bersenjata Suriah mulai menarik peralatan militer berat mereka untuk membuat zona demiliterisasi.

Tentara Suriah mulai menarik peralatan militer berat untuk membuat zona bebas militer. Demikian hal tersebut dilaporkan Sputnik, mengutip keterangan yang disampaikan Staf Umum Rusia, Kamis (15/9).

"Pasukan pemerintah Suriah telah berhenti melakukan penembakan dan mulai menarik tank, kendaraan-kendaraan tempur infanteri (IFV) dan artileri mereka hingga jarak tertentu untuk menciptakan zona demiliterisasi atau bebas militer. Pasukan Kedirgantaraan Rusia dan Angkatan Udara Suriah telah berhenti melakukan serangan udara di area yang kemungkinan menjadi lokasi unit-unit oposisi," ujar Wakil Kepala Staf Umum Departemen Operasional Letjen Viktor Poznikhir kepada para wartawan.

"Pihak Rusia benar-benar memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata. Sebuah pos pemeriksaan yang dibuat di Jalan Castello telah diserahkan kepada Gerakan Internasional Palang Merah. Unit-unit pertahanan diri masyarakat, seperti 'Bustan' dan 'Shield', kini berjaga untuk mempertahankan pos pemeriksaan tersebut," ujar Poznikhir. 

Poznikir juga menyatakan bahwa penarikan peralatan militer dari Jalan Castello di Aleppo dapat dibatalkan jika para militan tak mau mengikuti jejak Tentara Suriah. 

Ketika ditanya apakah kelompok-kelompok oposisi yang dikendalikan oleh AS juga melakukan hal serupa, Poznikhir mengatakan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia tidak memiliki informasi apa pun terkait hal itu.

Lebih lanjut, Poznikir juga mengungkapkan keprihatinannya atas peningkatan yang stabil dalam pelanggaran gencatan senjata di Suriah oleh para militan oposisi. Menurutnya, kesepakatan baru gencatan senjata di Suriah yang diperkenalkan pada 12 September telah dilanggar sebanyak 23 kali pada hari pertama, 37 kali pada hari kedua, dan 45 kali pada hari ketiga. 

Pozhnikir menyebutkan, peningkatan pelanggaran yang terjadi berkaitan dengan kegagalan Washington untuk memisahkan ‘oposisi moderat’ yang didukung AS dari kelompok teroris Jabhat Fatah Al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai front al-Nusra.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.