Presiden Turki Setujui Perjanjian Normalisasi Hubungan dengan Israel

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan

Zuma\TASS
Ankara akhirnya sepakat untuk mengakhiri ketegangan selama enam tahun terakhir dengan Tel Aviv.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan telah menyetujui perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel, yang ditujukan untuk memulihkan hubungan diplomatik antara kedua negara setelah lebih dari enam tahun merenggang. Demikian hal tersebut dilaporkan Sputnik, mengutip informasi yang dirilis kantor layanan pers presiden Turki.

"Erdoğan menyetujui perjanjian prosedural terkait kompensasi antara Republik Turki dan Negara Israel," tulis kantor berita Anadolu melaporkan.

Sebelumnya pada Agustus lalu, parlemen Turki, Majelis Agung Nasional Turki, meratifikasi RUU yang menetapkan bahwa Israel harus mentransfer kompensasi senilai 20 juta dolar AS (sekitar 265,6 miliar rupiah) kepada Turki dalam waktu 25 hari atas serangan terhadap kapal Turki yang menewaskan sepuluh orang aktivis Turki pada 2010 lalu.

Hubungan antara Israel dan Turki memburuk setelah insiden Freedom Flotilla pada Mei 2010, ketika konvoi enam kapal, termasuk satu kapal di bawah bendera Turki, mencoba mendekati Gaza untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Konvoi tersebut kemudian diblokir dan diserbu oleh pasukan Israel.

Turki merespons insiden tersebut dengan mengusir duta besar Israel, memanggil pulang duta besarnya dari Israel, dan menuntut permintaan maaf resmi dari Israel serta kompensasi bagi keluarga korban.

Pada akhir Maret 2016, Presiden Erdoğan menyatakan siap untuk menormalisasi hubungan diplomatik Turki dengan Israel selama pertemuan dengan kelompok pelobi pro-Israel AS. Sebulan kemudian, para pejabat Turki dan Israel mengadakan dialog terkait rencana normalisasi hubungan antara kedua negara.

Ankara dan Tel Aviv akhirnya menandatangani perjanjian untuk mengakhiri ketegangan selama enam tahun terakhir antara kedua negara pada 28 Juni 2016 di Roma, Italia, setelah Perdana Menteri Turki Binali Yıldırım memberikan pernyataan terpisah di Ankara.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.