Pakar: Jika Assad Digulingkan, Ekstremis Akan Berkuasa di Suriah

Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Presiden Suriah Bashar al-Assad.

AFP/East News
Penggulingan presiden Suriah dianggap akan membuka pintu bagi kelompok ekstremis untuk menguasai negara.

Penggulingan Presiden Bashar al-Assad akan menciptakan kekosongan kekuasaan yang sangat besar di Suriah dan membuka pintu bagi kelompok ekstremis untuk menguasai negara. Demikian hal tersebut dilaporkan Sputnik, mengutip pendapat Gunter Meyer, seorang ilmuwan politik Jerman dan salah satu pakar Timur Tengah terkemuka di Eropa.

Dalam sebuah wawancara dengan lembaga penyiaran publik Jerman Deutschlandfunk, Meyer mengungkapkan bahwa Presiden Assad harus tetap memimpin Suriah, setidaknya selama masa transisi. Menurutnya, presiden Suriah mampu menyatukan dan mengendalikan negaranya yang tengah dilanda perang 

Meyer menjelaskan, penggulingan Assad justru akan membuat "kekosongan kekuasaan yang sangat besar". Jika hal itu terjadi, kata Meyer, kelompok ekstremis akan segera mengambil alih kekuasaan. Pemerintahan itu hanya membuat Suriah semakin kacau dan Suriah akan berubah jadi negara gagal selama beberapa dekade, tanpa prospek penyelesaian damai sedikit pun, kata Meyer menjelaskan.

Negara Gagal

Negara gagal (failed state) adalah negara yang dianggap gagal memenuhi persyaratan dan tanggung jawab dasar suatu pemerintahan berdaulat. Ciri-ciri negara gagal menurut lembaga riset dan pendidikan nonprofit Fund for Peace antara lain:\tkehilangan kontrol atas wilayahnya sendiri, atau monopoli pengerahan pasukan di wilayahnya;\ttergerusnya kewenangan yang sah dalam pembuatan keputusan bersama;\ttidak mampu menyediakan layanan publik; dan\ttidak mampu berinteraksi dengan negara lain sebagai anggota penuh komunitas internasional.Standar mengenai seberapa besarnya kendali pemerintah yang dibutuhkan agar tidak dicap sebagai negara gagal masih beragam di kalangan peneliti. Selain itu, penetapan negara "gagal" masih dianggap kontroversial dan jika dibuat secara sengaja akan menimbulkan konsekuensi geopolitik yang besar.

Sang analis politik yang juga menjabat sebagai direktur Pusat Penelitian Dunia Arab di Universitas Johannes Gutenberg di Mainz, Jerman, mengungkapkan kelompok Jabhat Fateh Al-Sham — nama baru front al-Nusra yang sebelumnya merupakan cabang al-Qaeda di Suriah dan belum lama ini mengumumkan bahwa mereka memutuskan segala hubungan dengan kelompok teroris tersebut — merupakan ancaman yang tak bisa dikesampingkan.

Meyer mengatakan, Jabhat Fateh Al-Sham telah mengambil alih kepemimpinan dan komando atas semua lawan pemerintah yang beroperasi di daratan Suriah.

Kelompok ini telah menggunakan gencatan senjata yang diberlakukan baru-baru ini untuk mentransfer persenjataan dari Turki dengan dukungan keuangan dari Arab Saudi dan Qatar. Dengan demikian, kelompok teroris menjadi semakin kuat dan mampu mempertahankan diri mereka dengan baik.

Selain itu, Meyer juga mengatakan bahwa kelompok teroris ini berkaitan erat dengan kelompok-kelompok pemberontak lainnya yang dianggap AS sebagai "oposisi moderat" dan didukung baik secara militer maupun finansial.

Menurut sang ahli, dengan berbagi data pengintaian udara dengan para pemberontak, AS dan Jerman secara tidak langsung telah mendukung oposisi dan kelompok teroris di Suriah.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.