Khawatir Trump Terpilih, Kongres AS Ingin Buat Sanksi Anti-Rusia Permanen

Presiden Amerika dari Partai Republik Donald Trump menyatakan bahwa ia akan melihat lebih dalam terkait pengakuan Krimea sebagai bagian dari Rusia.

Presiden Amerika dari Partai Republik Donald Trump menyatakan bahwa ia akan melihat lebih dalam terkait pengakuan Krimea sebagai bagian dari Rusia.

Reuters
Parlemen AS berharap dapat segera mengesahkan RUU STAND (Stabilitas dan Demokrasi) untuk Ukraina yang dapat mempersulit pemerintahan AS berikutnya untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia.

Sementara calon presiden Amerika dari Partai Republik Donald Trump secara terang-terangan telah menyatakan minatnya untuk memperbarui hubungan AS dengan Rusia, Kongres AS tampaknya akan berupaya untuk memastikan bahwa hubungan antara Washington dan Moskow akan tetap masam, tulis media Rusia Sputnik.

Selama konferensi pers bulan lalu, Trump menyatakan bahwa ia akan "meninjau lebih dalam" terkait pengakuan Krimea sebagai bagian dari Rusia. Padahal, hal itu bertolak belakang dengan kebijakan AS saat ini yang menolak mengakui hasil referendum Krimea yang 96 persen penduduknya menginginkan reunifikasi dengan Federasi Rusia.

Pernyataan Trump tersebut ternyata menyebabkan kepanikan di Washington. Para anggota parlemen AS pun berharap dapat segera mengesahkan RUU STAND (Stabilitas dan Demokrasi) untuk Ukraina yang dapat mempersulit pemerintahan AS berikutnya untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia.

RUU yang diajukan oleh perwakilan Partai Demokrat Eliot Engel dari New York dan Adam Kinzinger dari Illinois itu nantinya akan secara efektif membuat sanksi anti-Rusia sulit dihapuskan, kecuali jika Krimea dikembalikan ke Ukraina.

Sebagaimana pendapat yang diungkapkan Editor Berita AntiWar.com Jason Ditz, RUU tersebut bukan hanya sekadar masalah calon presiden Partai Republik, tulis Sputnik.

"Ini bukan hanya tentang Trump. RUU ini ditujukan untuk menghalangi siapa pun presiden di masa depan agar dapat mempertimbangkan hal tersebut, membuat sanksi sebagai aspek permanen kebijakan Amerika," kata Ditz.

RUU ini juga membuat dua kubu kekuatan utama bertentangan satu sama lain. Sementara ketegangan yang berlangsung dengan Rusia tak diragukan lagi menjadi hal positif bagi kontraktor pertahanan yang kini menikmati peningkatan penjualan kepada NATO, perusahaan-perusahaan minyak AS justru berupaya mati-matian untuk mencabut sanksi terhadap Rusia demi menyelesaikan kontrak bernilai miliaran dolar.

"Kontrak pengeboran ExxonMobil dengan Rosneft senilai 500 juta dolar AS akan terancam jika sanksi (terhadap Rusia -red.) menjadi permanen," tulis Ditz. "Bahkan kesepakatan yang sangat besar ini bisa jadi hanyalah suatu permulaan karena wilayah Arktik Rusia memiliki kekayaan minyak yang luar biasa besar dan perusahaan-perusahaan minyak raksasa Amerika memiliki peluang untuk mengeksplorasi ladang-ladang minyak itu."

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.