Rusia Lanjutkan Pembangunan PLTN Akkuyu dan Pipa Gas ‘Turkish Stream’

Jalur pipa gas Turkish Stream terbentang di bawah Laut Hitam dari Rusia ke Turki, mengalirkan 63 miliar meter kubik gas Rusia per tahunnya ke perbatasan Turki-Yunani yang kemudian akan didistribusikan ke Eropa selatan.

Jalur pipa gas Turkish Stream terbentang di bawah Laut Hitam dari Rusia ke Turki, mengalirkan 63 miliar meter kubik gas Rusia per tahunnya ke perbatasan Turki-Yunani yang kemudian akan didistribusikan ke Eropa selatan.

Alexei Kudenko / RIA Novosti
Kedua presiden membahas beberapa kerja sama di berbagai sektor, termasuk di bidang energi.

Dalam pertemuan bilateral Rusia-Turki di Sankt Peterburg, Selasa (9/8), Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan sepakat melanjutkan pembangunan reaktor nuklir Akkuyu serta jalur pipa gas Turkish Stream, demikian dilaporkan Sputnik

Kedua presiden membahas beberapa kerja sama di berbagai sektor, termasuk di bidang energi. “Kami sepakat untuk melanjutkan kembali beberapa proyek gabungan, di antaranya melanjutkan pembangunan reaktor nuklir Akkuyu dan jalur pipa gas Turkish Stream,” terang Putin dalam konferensi pers bersama wartawan.

Erdoğan merangkum sejumlah area kerja sama dengan Rusia yang menarik perhatian Ankara. “Kami bersedia menyediakan status investasi strategis untuk proyek Akkuyu dan hal tersebut telah disepakati dengan Presiden Putin. Selain itu, kami juga hendak mempromosikan kerja sama di bidang industri pertahanan dan produksi pertahanan,” papar Erdoğan.

Rusia dan Turki menandatangani kesepakatan pembangunan dan pengoperasian pembangkit energi tenaga nuklir Turki yang pertama di Akkuyu, Provinsi Mersin, Turki selatan pada Mei 2010 lalu. PLTN tersebut diperkirakan akan menghasilkan sekitar 35 miliar kWh per tahun.

Sementara, rencana pembangunan pipa gas Turkish Stream diumumkan pada Desember 2014. Pipa gas tersebut terbentang di bawah Laut Hitam dari Rusia ke Turki, mengalirkan 63 miliar meter kubik gas Rusia per tahunnya ke perbatasan Turki-Yunani yang kemudian akan didistribusikan ke Eropa selatan.

Pertemuan di Sankt Peterburg pada Selasa (9/8) memberi harapan baru bagi masa depan kedua proyek besar tersebut. 

“Pemberian status investasi strategis bagi proyek bernilai sepuluh miliar dolar AS ini meyakinkan kami bahwa proyek ini dapat terimplementasi dengan baik,” kata Putin. Sementara pihak Turki megaku siap membantu mempercepat realisasi proyek ini.

Selain di sektor energi, pada pertemuan tersebut Erdoğan juga mengungkapkan ketertarikannya untuk menjalin kerja sama dengan Rusia di bidang industri pertahanan.

Normalisasi hubungan bilateral Rusia-Turki dimulai sejak Juni lalu, setelah Kremlin menerima surat permintaan maaf Erdoğan atas insiden penembakan pesawat pengebom Su-24 oleh AU Turki di Suriah yang menewaskan pilot Rusia pada November lalu.