Putin dan Erdoğan Kembali Berkawan, Mimpi Buruk bagi Barat

Ikatan bilateral Rusia-Turki memasuki tahap baru. Hubungan yang tadinya mendingin, kini mulai hangat.

Ikatan bilateral Rusia-Turki memasuki tahap baru. Hubungan yang tadinya mendingin, kini mulai hangat.

Reuters
Agenda diskusi antara kedua presiden fokus pada pemulihan hubungan politik dan ekonomi Rusia-Turki, serta mencari solusi atas krisis Suriah.

Pergerakan Turki ke timur mungkin menciptakan skenario mimpi buruk bagi Eropa, AS, dan NATO. Tak heran, pertemuan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Sankt Peterburg pada Selasa (9/8) bisa menjadi salah satu tonggak sejarah, demikian disampaikan surat kabar Swedia Svenska Dagbladet, seperti yang dikutip Sputnik.

Ikatan bilateral Rusia-Turki memasuki tahap baru. Hubungan yang tadinya mendingin, kini mulai hangat. Hal itu tergambar dalam kesediaan presiden dari kedua negara untuk bertemu tatap muka.

"Ini akan menjadi kunjungan yang bersejarah, sebuah awal yang baru. Pertemuan dengan teman saya Vladimir Putin akan membuka halaman baru dalam hubungan bilateral negara kami," kata Erdoğan sebelum mengunjungi Putin.

Agenda diskusi fokus pada pemulihan hubungan politik dan ekonomi Rusia-Turki, serta mencari solusi atas krisis Suriah. Rusia bertekad untuk melanjutkan dukungannya pada Presiden Suriah Bashar Al-Assad, dan hari ini (9/8), Erdoğan tampaknya tak lagi keberatan dengan ide tersebut.

“Tanpa partisipasi dari Rusia, mustahil kita bisa menemukan solusi atas konflik Suriah," kata Erdogan.

Sebelumnya, KTT NATO di Warsawa pada awal Juli, yang juga dihadiri Erdoğan, menuai banyak pujian karena menandai ‘persatuan’ NATO melawan ‘agresi Rusia’.

Namun kemarin, Selasa (9/8), Turki yang merupakan anggota NATO terang-terangan bergerak ke arah timur, menunjukkan ia memiliki kepentingan bersama dengan Rusia. Bagi Barat dan NATO, hal ini akan menambah tekanan geopolitik, demikian disampaikan kolumnis surat kabar Swedia Svenska Dagbladet Jonas Gummesson.

Menurut Gummesson, NATO membutuhkan keputusan konsensus pada semua level. Pemulihan hubungan Turki dengan Rusia yang "agresif" dapat merusak persatuan NATO dan membatasi kemampuan pertahanan aliansi untuk memperketat keamanan mereka, mengganggu keamanan kawasan Baltik dan negara nonblok Swedia, dan hal tersebut tentu membuat NATO khawatir.

Gummesson menekankan bahwa Turki, meski tergabung dengan NATO dan memiliki prospek menjadi anggota Uni Eropa, telah menjadi mitra dialog dalam Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), wadah yang didominasi oleh Rusia dan Tiongkok. Isu peningkatan kerja sama telah dibahas sebelumnya dan bisa muncul kembali kapan saja. Melihat perkembangan situasi baru-baru ini, ide tersebut mungkin tampak lebih menggiurkan bagi Erdoğan dibanding menantikan keanggotaan Uni Eropa yang jelas tidak akan terealisasi.

Erdoğan dan Putin terakhir kali bertemu dalam KTT G-20 yang digelar di Antalya pada pertengahan November lalu. Seminggu setelahnya, terjadi insiden penembakan jet tempur Rusia oleh AU Turki di Suriah, yang membekukan hubungan kedua negara tersebut selama setengah tahun.

Pada akhir Juni lalu, Turki menyampaikan permintaan maaf dan Erdoğan menyebut insiden tersebut sebagai tindakan yang tidak disengaja. Dalam percakapan telepon dengan Putin, Erdoğan menekankan bahwa Rusia adalah mitra strategis Turki dan menyerukan pemulihan "hubungan persahabatan" Rusia-Turki di masa mendatang.

Setelah terjadi kudeta militer di Turki pada pertengahan Juli lalu, hubungan Turki, Eropa, dan Amerika Serikat memanas. Tuduhan terbuka keterlibatan AS dalam kudeta menambah kecurigaan Barat terhadap niat dan ambisi presiden Turki. Situasi ini semakin buruk mengingat Uni Eropa bergantung pada Turki untuk menangani krisis pengungsi yang tak kunjung berakhir, sementara pesawat tempur AS masih menggunakan pangkalan udara Turki untuk menggempur ISIS di Suriah.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.