Ditanya Bagaimana Senjatanya Bisa Jatuh ke Tangan Teroris, AS Bungkam

Para pemberontak dari kelompok Jabhat al-Nusra atau yang dikenal juga sebagai front al-Nusra,

Para pemberontak dari kelompok Jabhat al-Nusra atau yang dikenal juga sebagai front al-Nusra,

AP
Sejumlah besar senjata buatan AS ditemukan di distrik timur Aleppo, Suriah — yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok teroris front al-Nusra — kembali menyulut perdebatan mengapa senjata buatan AS terus menerus jatuh ke tangan yang salah.

Sejumlah besar senjata buatan AS ditemukan di distrik timur Aleppo, Suriah, yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok teroris front al-Nusra. Demikian hal tersebut dilaporkan media Rusia Sputnik.

Temuan tersebut kembali menyulut perdebatan mengapa senjata buatan AS terus menerus jatuh ke tangan yang salah.

“Video yang dirilis hari ini memperlihatkan temuan sejumlah besar senjata dan amunisi buatan Barat dalam sebuah rumah di kawasan Bani Zaid, Aleppo, yang sebelumnya ditmepati oleh kelompok teroris front al-Nusra. Sebagian besar senjata berasal dari AS, termasuk sistem rudal antitank TOW 2A, rudal UN0181, serta mortir dan amunisi yang berlabel ‘USA’,” terang laporan media RT, Kamis (4/8).

 

Pada konferensi pers 27 Juni lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Elizabeth Trudeau menolak mengomentari laporan The New York Times terkait pencurian senjata AS yang awalnya dikirim untuk kelompok oposisi ‘moderat’ Suriah di Yordania.

 

“Sekarang sedang tahap investigasi, jadi saya tak mau mengomentari hal itu. Yang jelas, AS tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas dan keamanan Yordania, dan kami bangga bekerja sama dengan mereka untuk menumpas koalisi ISIS,” kata Trudeau.

Sumber: RT America / YouTube

Selain itu, Trudeau juga menolak untuk merespons laporan sebelumnya terkait senjata AS yang kerap berpindah tangan ke afiliasi kelompok teroris Al-Qaeda di Suriah. Ia juga tutup mulut saat ditanya lembaga apa saja yang terlibat dalam penyelidikan kasus tersebut.

Sementara, dalam artikel berjudul ‘War on the Rocks’ yang ditulis akademisi AS Austin Carson dan Michael Poznansky,  disebutkan bahwa operasi gelap AS dalam melatih dan mempersenjatai militan Suriah dianggap “penting” meski persenjataan tersebut kerap berpindah tangan ke pihak yang salah.

Pada 22 September 2015, The Telegraphmelaporkan bahwa oposisi Suriah yang didukung AS menyerah dan menyerahkan senjata mereka pada kelompok teroris front al-Nusra. Dua bulan kemudian, front al-Nusra merilis video yang mengungkapkan rasa terima kasih mereka pada kelompok oposisi Tentara Pembebasan Suriah (FSA) karena telah memasok rudal antitank TOW buatan AS.

Pada 13 April 2016, Al Jazeeramemublikasikan video anggota front al-Nusra yang merebut senjata AS dari kelompok oposisi Front Revolusi Suriah (dikenal sebagai SRF atau Jabhat Thowar Surriya) di Provinsi Idlib. Gedung Putih menganggap SRF sebagai benteng dalam melawan ISIS di Suriah.

Pada 26 Juni lalu, The New York Timesmelaporkan bahwa “senjata yang dikirim oleh CIA dan Arab Saudi ke Yordania awalnya ditujukan bagi kelompok oposisi Suriah, tapi setelah tiba di Yordania senjata tersebut malah dilucuti oleh elemen kotor (agen) intelijen Yordania yang kemudian menjualnya ke pasar gelap.”

Rasa malu dan frustasi yang dirasakan oleh Washington semakin parah setelah muncul laporan media yang mengutip pejabat FBI. Media menyebutkan bahwa senjata yang dicuri tersebut itu digunakan untuk membunuh dua warga AS di pusat pelatihan polisi di Amman, Yordania.

Peristiwa pencurian senjata AS kembali terulang pada 2 Juli lalu. Front al-Nusra menyerang markas komando FSA di kota Kafr Anbel, Hazazen, serta Ma’arat Harmeh. Front al-Nusra merebut senjata dan amunisi yang dimiliki oleh FSA,  termasuk rudal antitank TOW buatan AS.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.