Rusia dan Suriah Gelar Operasi Kemanusiaan di Aleppo

Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan pihaknya bersama pemerintah Suriah akan membentuk tiga jalur keluar dari kota bagi para warga yang terancam.

Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan pihaknya bersama pemerintah Suriah akan membentuk tiga jalur keluar dari kota bagi para warga yang terancam.

Mil.ru
Rusia bersama pemerintah Suriah akan membentuk tiga jalur keluar dari kota bagi para warga yang terancam.

Rusia dan Suriah menggelar operasi kemanusiaan untuk menyelamatkan masyarakat kota Aleppo, serta membentuk jalur koridor keluar dari kota bagi para milisi yang tak ingin berperang, demikian disampaikan Kementerian Pertahanan Rusia, Kamis (28/7), seperti dikutip RT.

“Prioritas utama kami adalah untuk memastikan keselamatan masyarakat Aleppo,” kata Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu. 

Shoigu menjelaskan operasi kemanusiaan ini dilakukan karena para milisi dari pihak oposisi kerap melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan tentara pemerintahan Suriah. “Kami telah berulang kali meminta semua pihak untuk berdamai, tapi para milisi terus melanggar kesepakatan gencatan senjata serta menyerang permukiman warga dan tentara pemerintah Suriah,” terang Shoigu.

Gencatan senjata di Suriah telah diberlakukan sejak 27 Februari lalu, setelah Rusia dan AS memediasi pemerintah Suriah dan kelompok oposisi. Namun, kesepakatan gencatan senjata tersebut tak termasuk dan tak melibatkan kelompok teroris, seperti front Al-Nusra dan ISIS.

Terkait operasi kemanusiaan tersebut, Shoigu mengatakan pihaknya bersama pemerintah Suriah akan membentuk tiga jalur keluar dari kota bagi para warga yang terancam. Ia juga mengajak berbagai organisasi internasional untuk turut bepartisipasi dalam operasi kemanusiaan ini.

Sementara, Rusia terpaksa membangun koridor keempat khusus bagi para militan, mengingat kelompok teroris front al-Nusra saat ini berupaya bergabung dengan kelompok milisi oposisi di Aleppo dan AS enggan berbagi informasi dengan Rusia terkait hal tersebut.

Meski demikian, Rusia masih mengharapkan itikad baik AS untuk menginformasikan lokasi kelompok militan ‘moderat’ yang didukung oleh Washington.

Kamis lalu, media Rusia RIA Novosti mengatakan bahwa beberapa kelompok militan oposisi yang dikepung oleh tentara pemerintah Suriah telah setuju untuk meletakkan senjata mereka.

“Beberapa pihak militan oposisi telah bersedia untuk melucuti senjata mereka ketika mendengar pernyataan dari Presiden Suriah Bashar al-Assad yang akan memberi amnesti bagi pihak yang mau menyerah,” terang seorang narasumber kepada RIA Novosti.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.