Pelaku Penembakan Su-24 Rusia Terlibat dalam Upaya Kudeta di Turki

Alparslan Çelik, seorang warga Turki dan sekaligus seorang militan yang bertanggung jawab atas pembunuhan pilot pesawat pengebom Su-24 Rusia Oleg Peshkov.

Alparslan Çelik, seorang warga Turki dan sekaligus seorang militan yang bertanggung jawab atas pembunuhan pilot pesawat pengebom Su-24 Rusia Oleg Peshkov.

Facebook
Pilot yang menembak jatuh pesawat Su-24 Rusia di Suriah terlibat dalam upaya kudeta di Turki pada 16 Juli lalu.

Pilot yang menembak jatuh pesawat Su-24 Rusia di Suriah terlibat dalam upaya kudeta di Turki pada 16 Juli lalu. Hal tersebut diutarakan Wakil Perdana Menteri Turki Mehmet Şimşek menyebutkan dalam pertemuan menteri keuangan dan presiden bank sentral negara anggota G20, Sabtu (23/7) lalu.

Menurut Şimşek, keputusan untuk menembak jatuh pesawat Rusia tak bersifat politis. “Kami sendiri berhadapan dengan rencana rahasia mereka,” kata Şimşek seraya berharap hubungan Rusia-Turki akan bebas dari ketakutan dan ancaman.

Pada 24 November 2015, pilot pesawat F-16 milik AU Turki menembak jatuh pesawat pengebom Su-24M Rusia yang sedang melakukan misi antiteroris di Suriah. Kala itu, Ankara mengklaim bahwa pesawat Rusia tersebut telah melanggar wilayah perbatasan udara Turki. Namun, Kementerian Pertahanan Rusia menekankan bahwa pesawat Su-24 saat itu beroperasi di wilayah udara Suriah.

Peristiwa tersebut menewaskan seorang pilot Rusia, Oleg Peskhov, yang ditembak oleh kelompok milisi saat menyelamatkan diri menggunakan parasut. Sementara, pilot kedua berhasil diselamatkan dan saat itu segera dievakuasi ke pangkalan Rusia terdekat. Insiden penembakan Su-24 berdampak pada meregangnya hubungan ekonomi dan perdagangan antara Rusia dengan Turki. Ditambah, Ankara sempat menolak menyatakan permohonan maaf kepada keluarga pilot atas insiden tersebut.

Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan akhirnya mengirim surat permintaan maaf kepada Presiden Rusia Vladimir Putin pada 27 Juni lalu. Dalam surat tersebut, Erdoğan mengaku siap mengerahkan segenap upaya untuk memulihkan hubungan persahabatan antara Turki dan Rusia. Surat tersebut juga menekankan bahwa Erdoğan “siap melakukan segala hal yang memungkinkan untuk merestorasi hubungan persahabatan antara Turki dengan Rusia.”

Dua minggu kemudian, tepatnya pada 16 Juli lalu, sekelompok pemberontak dari militer Turki melancarkan upaya kudeta di Ankara dan Istanbul untuk menggulingkan pemerintahan Erdoğan. Dikabarkan sebanyak 246 orang tewas dan 2.185 orang lainnya mengalami luka-luka akibat peristiwa berdarah tersebut.

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.