AS Larang Rusia Bergabung dengan Koalisi Internasional Anti-ISIS di Suriah

Rusia dimintamendesak pemerintah Suriah agar mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

Washington tak percaya pada Moskow dan tak mengizinkan Rusia bergabung dengan koalisi internasional antiteroris yang dibentuk AS di Suriah, demikian disampaikan Brett McGurk, utusan khusus koalisi pimpinan AS untuk melawan kelompok radikal ISIS, seperti yang dikutip Sputnik, Senin (25/7).

Dalam wawancara dengan media Sky News Arabia, McGurk menegaskan Washington tak akan mengizinkan Rusia bergabung dengan koalisi yang terdiri dari 45 negara tersebut. “Kami tak percaya pada Rusia, mengingat mereka telah mendukung pemerintah Suriah secara militer dan material selama konflik berlangsung,” kata McGurk. Sementara, sejak 2011 AS mendukung pihak oposisi di Suriah dengan memasok senjata bagi mereka untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

McGurk mengakui bahwa Rusia dan AS memang sudah menjalin komunikasi untuk menggempur posisi teroris di Suriah. Namun, menurutnya Rusia harus mendesak pemerintah Suriah agar mematuhi kesepakatan gencatan senjata karena tentara pemerintah pro-Assad kerap melanggar kesepakatan tersebut.

Gencatan senjata di Suriah telah berlaku sejak 27 Februari lalu berkat upaya mediasi AS dan Rusia. Namun, kelompok teroris seperti front Al-Nusra dan ISIS tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut dan secara aktif menyerang permukiman penduduk di Suriah.

AS dan Rusia sama-sama mengerahkan upaya untuk memerangi terorisme di wilayah tersebut, tapi upaya itu berjalan masing-masing. AS bersama puluhan negara lain membentuk koalisi antiteroris di Suriah sejak 2014 silam tanpa melibatkan Rusia, sedangkan Rusia menggelar operasi militer di negara tersebut atas permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.