Krisis Identitas, NATO Jadikan Rusia ‘Musuh Bersama’

Definisi ‘musuh’ bagi NATO setelah berakhirnya Perang Dingin merupakan topik yang sering diperdebatkan.

Diplomat Ceko Hynek Kmonicek menilai NATO perlu mendefinisikan ‘musuh’ mereka dengan jelas. Menurutnya, terlepas dari segala retorika bahwa Rusia memberikan ancaman terhadap aliansi, Moskow — sebenarnya — hanyalah ‘lawan’ yang perlu diyakinkan dengan keuntungan yang didapat dari demokrasi ala Barat.

Dalam artikel yang dilansir oleh media Ceko, Kmonicek mengatakan bahwa definisi ‘musuh’ bagi NATO setelah berakhirnya Perang Dingin merupakan topik yang sering diperdebatkan.

Ia juga menilai upaya mencari ‘musuh utama’ dan membentuk identitas baru bagi NATO saat ini telah berdampak besar bagi Republik Ceko.

Tujuan pembentukan NATO awalnya adalah untuk menggertak dan menyeimbangi ekspansi Uni Soviet pada masa Perang Dingin.

Setelah Perang Dingin berakhir, NATO menghadapi masalah terkait identitasnya sebagai aliansi pertahanan serta definisi ‘musuh’ yang harus dihadapi. Kini, NATO membutuhkan ‘musuh bersama’ agar aliansi tersebut tetap dapat bersatu. “Hal itu bukan masalah ketika Uni Soviet masih ada,” ujar Kmonicek, seperti yang dikutip Sputnik.

Kunci utama persatuan NATO saat ini adalah mencari ‘musuh utama’ bagi aliansi tersebut. Kmonicek berpendapat saat ini belum ada ancaman semacam ‘Uni Soviet baru’. Oleh karena itu, NATO berupaya mencari musuh baru, bahkan yang berada di luar kawasan Atlantik seperti Libya dan Afghanistan. 

“Namun, diktator dan aktor non-negara seperti kelompok teroris tak mampu menggantikan ancaman ‘musuh utama’ yang setara dengan Uni Soviet. Saat ini belum ada musuh bersama yang bersifat kuat, besar, dan berbahaya seperti Soviet,” kata Kmonicek.

Sang diplomat menggarisbawahi bahwa definisi ‘lawan’ tidak sama dengan ‘musuh’. Menurut Kmonicek, lawan tak menciptakan ancaman, melainkan hanya memiliki perbedaan gagasan. “Setelah lawan tersebut meninggalkan gagasannya, ia akan menjadi ‘mitra’,” terang Kmonicek. 

Dari satu sisi, hal itu menunjukkan status Rusia saat ini bukan musuh, melainkan hanya sekadar lawan. Sementara, kelompok teroris internasional seperti ISIS-lah yang merupakan musuh nyata.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.