Akankah Percobaan Kudeta Turki Pengaruhi Upaya Rusia dan AS di Suriah?

Upaya kudeta di Turki yang baru-baru ini terjadi memperumit permainan politik AS di Suriah.

Upaya kudeta di Turki yang baru-baru ini terjadi memperumit permainan politik AS di Suriah, serta berpengaruh terhadap operasi militer yang digelar Rusia dan koalisi pimpinan AS, demikian dilaporkan Sputnik.

Minggu lalu, Menlu AS John Kerry bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Moskow untuk membahas kerja sama dalam pemberantasan terorisme di Suriah. Salah satu usulan kerja sama yang ditawarkan, menurut laporan The Washington Post, adalah pembentukan Grup Implementasi Gabungan yang berperan sebagai koordinator dalam melawan kelompok teroris front al-Nusra dan ISIS.

Menanggapi hal tersebut, Moskow ternyata tak terlihat antusias. Hal ini disebabkan karena AS masih terus mengejar kepentingan nasionalnya, serta pandangan Rusia yang melihat bahwa masih banyak hal yang perlu untuk diprioritaskan terkait permasalahan di Suriah.

Namun, upaya kudeta di Turki yang terjadi belum lama ini dapat memperumit permainan politik AS terkait Suriah.

Upaya kudeta di Turki telah mengakibatkan terjadinya peningkatan perbedaan koalisi dan perbedaan kelompok oposisi di Suriah, ujar Analis dari Institut Riset Strategis Rusia Sergei Ermakov. Setelah gagalnya upaya kudeta, beberapa pejabat Turki menuduh adanya tindakan campur tangan AS dalam upaya kudeta tersebut. Ermakov menambahkan bahwa tuduhan tersebutlah yang kini memberikan daya tawar bagi Presiden Erdoğan untuk berunding dengan Washington.

Ankara telah lama mendesak Washington untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia di Suriah dan bersikeras untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. Ankara bahkan telah meminta Washington untuk meningkatkan dukungan terhadap kelompok oposisi, serta membantu Turki dalam menyelesaikan permasalahan Kurdistan. Dengan adanya tuduhan campur tangan AS dalam upaya kudeta di Turki, Presiden Erdoğan dapat berunding dengan Moskow terkait tiga pilihan yang telah diminta tersebut. Ermakov mengatakan bahwa saat ini ada kemungkinan besar AS akan menyetujui permintaan Turki tersebut.

AS telah beberapa kali dikecewakan oleh kebijakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan. Namun, AS masih membutuhkan peran Turki sebagai sekutu di kawasan Timur Tengah.

“Turki merupakan satu dari tiga negara non-Arab di Timur Tengah dan juga merupakan anggota NATO yang layak untuk sejajar dengan Rusia di kawasan. Turki juga berperan penting dalam upaya melawan ISIS, khususnya sejak Ankara menyetujui penggunaan Pangkalan Udara Incirilik bagi pesawat pengbom AS yang akan bertugas ke Irak dan Suriah,” terang artikel di Financial Times.

“Setelah upaya kudeta, Turki untuk sementara tidak akan terlibat dalam permasalahan di Suriah. Insiden (kudeta) tersebut telah memperlihatkan adanya kontradiksi di dalam masyarakat Turki,” terang Kepala Center of Strategic Environment Ivan Konovalov.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.