Aleppo Terus Diserang, Damaskus Sebut Barat Munafik dalam Perangi Teroris

Pejabat Damaskus mengirim surat kepada PBB, melaporkan situasi yang terjadi di kota tersebut.

Sementara korban terus berjatuhan akibat penembakan intens yang dilakukan pemberontak "moderat" di area permukiman di Aleppo, Suriah, pejabat Damaskus melayangkan surat kepada PBB, melaporkan situasi yang terjadi di kota tersebut, seraya menyoroti kemunafikan negara-negara Barat. Demikian hal tersebut dilaporkan Sputnik.

Setidaknya 30 warga sipil — kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak — tewas, dan 150 orang lainnya luka-luka akibat bom yang meledak di sebuah asrama di Aleppo, kata Kementerian Pertahanan Rusia, Sabtu (9/7). Serangan tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok "moderat" yang didukung AS, serta front al-Nusra, di tengah kesepakatan gencatan senjata selama 72 jam di Aleppo. Pada saat yang sama, penduduk Aleppo, kota terbesar di negara itu, tetap terkepung tanpa makanan dan bahan bakar yang cukup.

"Selama beberapa hari terakhir, belum ada gencatan senjata di Aleppo," kata Zeina Khodr dari Al Jazeera. "Di Aleppo, tak ada gencatan senjata dan kekerasan terus berlanjut."

Kementerian Luar Negeri Suriah mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan PBB dan Sekjen PBB Ban Ki-moon, menyalahkan kekuatan Barat yang terus mendukung "kelompok oposisi moderat" yang terus-menerus menyerang kota, baik selama bulan suci Ramadan maupun selama perjanjian gencatan senjata, kata kantor berita SANA melaporkan, Sabtu (9/7).

Dengan memberikan dukungan kepada (kelompok) "moderat" negara-negara Barat, seperti Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat, lebih berusaha untuk menggulingkan presiden Suriah daripada memerangi terorisme, bunyi surat itu.

Dalam surat tersebut, posisi Barat terhadap penembakan besar-besaran di Aleppo ini disebut sebagai "kemunafikan mendalam". Pihak berwenang Suriah juga menambahkan bahwa negara-negara di kawasan, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Turki, memfasilitasi teroris serta menyebarkan "kehancuran dan kebencian".

"Kelompok-kelompok teroris bersenjata yang didukung dan didanai pihak eksternal terus menyerang lingkungan permukiman di kota Aleppo dengan berbagai bahan peledak dan roket."

Aleppo telah dibagi ke dalam zona yang dikuasai pemerintah dan zona yang dikuasai pemberontak sejak 2012, menyusul meletusnya perang saudara di Suriah. Kini, sebanyak 200 ribu warga Suriah terjebak di daerah yang dikuasai militan.

Konflik di Suriah yang dimulai sejak 2011 lalu telah berubah menjadi perang skala besar. Lebih dari 270 ribu warga sipil telah tewas sejak meletusnya perang di negara itu.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.