Dulu Musuh Kini ‘Saudara’: Mungkinkah Turki Ubah Strategi Hadapi Assad?

Terlepas dari kebenaran adanya perundingan Turki dengan Suriah, hingga saat ini masih belum jelas bagaimana sebenarnya pemerintah dan masyarakat Suriah menerima upaya pendekatan Ankara, mengingat adanya dukungan Turki terhadap kelompok militan yang meneror Suriah selama lebih dari lima tahun.

Terlepas dari kebenaran adanya perundingan Turki dengan Suriah, hingga saat ini masih belum jelas bagaimana sebenarnya pemerintah dan masyarakat Suriah menerima upaya pendekatan Ankara, mengingat adanya dukungan Turki terhadap kelompok militan yang meneror Suriah selama lebih dari lima tahun.

Reuters
Setelah melancarkan upaya perbaikan hubungan dengan Rusia dan Israel, ketua dari kelompok parlemen Partai Demokrasi Masyarakat (HDP) menduga Ankara melakukan negosiasi rahasia untuk memperbaiki hubungan dengan Suriah. Demikian hal tersebut dilaporkan Sputnik, Senin (4/7).

Ketua fraksi Partai Demokrasi Masyarakat Turki İdris Baluken menduga, Ankara akan berupaya memperbaiki hubungannya dengan Damaskus. Bulan lalu, anggota parlemen mengajukan pertanyaan terkait perundingan rahasia antara pejabat Suriah dan Turki di luar negeri.

“Berdasarkan informasi yang tersedia, perundingan rahasia antara Turki dan Suriah dilakukan di Aljazair dan beberapa negara lain. Kelihatannya, (pemerintah) Turki sedang bersiap untuk mengubah paradigma dari ‘Assad adalah musuh’ menjadi ‘Assad adalah saudara’. Sangat mungkin bahwa saat ini Damaskus telah mengirim surat permintaan maaf kepada Ankara,” kata Baluken, seperti yang dikutip Sputnik

Baluken menambahkan, saat sidang paripurna parlemen, ia mengimbau pemerintah untuk mengklarifikasi terkait perundingan rahasia antara Turki dengan Suriah. “Namun, kami belum mendapatkan respons resmi, baik bantahan maupun penjelasan secara detail terkait perundingan tersebut.” 

Baluken menekankan bahwa anggota parlemen Turki berhak mendapatkan penjelasan detail terkait informasi perubahan strategi pemerintah Turki terhadap Suriah. Menurutnya, ia dan anggota parlemen lainnyalah yang harus harus menanggung beban atas kebijakan yang salah terhadap Suriah.

“Salah satu dampak dari kebijakan tersebut adalah serangan terhadap Bandara Ataturk yang menewaskan puluhan orang. Oleh karena itu, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) seharusnya memberikan informasi pada masyarakat Turki terkait perubahan kebijakan terhadap Suriah,” terang Baluken.

Sang anggota parlemen mengambil contoh beberapa kebijakan Ankara yang ia kritisi. “Kita melihat perubahan yang terjadi dalam strategi kebijakan luar negeri pemerintah Turki terhadap Israel, Rusia, dan Mesir. Mereka (pemerintah Turki) menyadari pentingnya perubahan strategi agar tidak kehilangan kekuatan. Untuk itu, partai yang berkuasa siap melakukan segala cara dan kami asumsikan bahwa informasi terkait perundingan rahasia dengan Suriah itu benar-benar terjadi. Jika pemerintah membantah informasi tersebut maka biarkan mereka membuat pernyataan resmi agar hasil perundingan dibatalkan,” ujar Baluken.

Ketika ditanya mengenai topik utama dalam perundingan tersebut, Baluken menyebutkan bahwa kemungkinan besar dialog membahas mengenai isu suku Kurdistan, khususnya keinginan Erdoğan untuk mengubah status Rojava, sebuah wilayah di utara Suriah yang dihuni oleh suku Kurdistan Suriah. “Erdoğan ingin membangun kontak dengan pemerintah Suriah melalui kampanye anti-Kurdistan. Kami melihat bahwa pendekatan ini sungguh menyesatkan. Erdoğan dan AKP kembali mengulang kesalahan yang sama,” terang Baluken.

Baluken yakin Damaskus telah mengirim surat permintaan maaf secara rahasia pada Suriah. “Kami bahkan tak mengetahui apa pun terkait surat yang dikirim ke Moskow. Oleh karena itu, pengiriman surat yang sama kepada pemimpin Suriah tentu bukan kejutan. Jika ini benar-benar terjadi, Erdoğan perlu bersikap transparan,” ujar Baluken.

Terlepas dari kebenaran adanya perundingan Turki dengan Suriah, hingga saat ini masih belum jelas bagaimana sebenarnya pemerintah dan masyarakat Suriah menerima upaya pendekatan Ankara, mengingat adanya dukungan Turki terhadap kelompok militan yang meneror Suriah selama lebih dari lima tahun.

Sebelumnya, pada Senin (27/6), Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan meminta maaf kepada Moskow atas tewasnya pilot pesawat Su-24 Rusia yang ditembak oleh AU Turki di wilayah Suriah pada November 2015. Di saat yang hampir bersamaan, Turki dan Israel sepakat memperbaiki hubungan mereka yang memburuk sejak insiden setelah insiden Freedom Flotilla pada 2010 lalu, ketika konvoi enam kapal, termasuk satu kapal di bawah bendera Turki, mencoba mendekati Gaza untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Konvoi tersebut kemudian diblokir dan diserbu oleh pasukan Israel, yang mengakibatkan delapan warga Turki terbunuh.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.