Mantan PM Jepang Minta Komunitas Internasional Akui Referendum Krimea

Kunjungan Hatoyama ke Krimea tahun lalu ditujukan untuk melihat secara langsung kondisi di wilayah tersebut.

Mantan PM Jepang Yukio Hatoyama berjuang untuk meyakinkan masyarakat Jepang dan komunitas internasional bahwa kehidupan di Krimea berada dalam kondisi aman dan damai. Demikian hal tersebut diberitakan oleh Sputnik.

Kunjungan Hatoyama ke Krimea tahun lalu ditujukan untuk melihat secara langsung kondisi di wilayah tersebut. “Saya melihat kondisi di Krimea sangat damai dan ini merupakan bukti nyata. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan fakta ini kepada masyarakat Jepang dan komunitas internasional,” ujar Hayotama dalam pertemuan dengan anggota parlemen Rusia Sergei Naryshkin di Tokyo, Jepang pada Jumat (17/6).

Hayotama menekankan bahwa ia akan berupaya untuk terlibat dalam meningkatkan pertukaran budaya antara Rusia dengan Jepang.

Pada Maret 2014, Krimea resmi memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia. Reunifikasi Krimea dengan Rusia diselenggarakan melalui referendum dengan hasil lebih dari 96 persen masyarakat Krimea mendukung upaya tersebut. Namun, negara-negara Barat mengecap keputusan masyarakat Krimea tersebut sebagai bentuk ‘aneksasi ilegal’. Moskow telah menekankan bahwa referendum di Krimea telah berjalan sesuai dengan hukum internasional.

Negara-negara Barat, termasuk Jepang, memberlakukan sanksi terhadap sektor perbankan, energi, dan pertahanan Rusia setelah dilakukannya reunfikasi Krimea dengan Rusia.

Hayotama telah mendesak pemerintah Jepang untuk menghapus sanksi terhadap Rusia dan mengakui referendum Krimea.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.