AS Terus Ulur Perundingan Pertahanan Rudal dengan Rusia

AS terus mengulur perundingan terkait kekhawatiran Rusia terhadap rencana penempatan rudal pertahanan AS di perbatasan Rusia.

Washington terus mengulur perundingan dengan Moskow yang khawatir terhadap rencana penempatan rudal pertahanan AS di wilayah perbatasan Rusia.

Pada pertemuan “Shangri-La Dialogue”, Wakil Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Antonov, seperti yang dikutip RT, mengatakan bahwa Rusia tak bisa meyakinkan AS untuk merundingkan rencana penempatan rudal pertahanan AS. 

Antonov menambahkan bahwa pemerintah Rusia telah beberapa kali meminta kepada AS untuk mengevaluasi rencana tersebut dan menawarkan kerja sama bilateral dengan AS. Akan tetapi, AS terlihat tak tertarik menanggapi usulan tersebut. 

Pemerintah Rusia, biar bagaimanapun, mengaku tak pernah menentang pengembangan sistem pertahanan mana pun. Rusia percaya bahwa setiap negara berhak mengembangkan sistem pertahanannya sendiri, kecuali senjata nuklir, kimia, dan biologis, ujar Antonov. Namun, implementasi perencanaan rudal pertahanan AS tersebut telah memberikan dampak negatif bagi keamanan negara lain, salah satunya adalah Rusia.

Pada Mei 2016, NATO mulai mengoperasikan markas pertahanan rudal di Deveselu, Rumania. Pada saat yang sama, Polandia juga menunjukkan ketertarikan untuk mengoperasikan markas serupa dalam dua tahun ke depan.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin telah menekankan bahwa aksi NATO di Eropa merupakan sebuah ancaman bagi keamanan Rusia. Hal ini memaksa Rusia untuk merespons kehadiran NATO di timur Eropa. Pada bulan yang sama, Rusia mengaktifkan kembali stasiun peringatan serangan rudal di Krimea, Rusia. 

Dua tahun setelah reunifikasi Krimea dengan Rusia, NATO dikatakan bersedia untuk "memperbaiki" hubungannya dengan Moskow demi mencegah "insiden berbahaya" dan "untuk menjaga terbukanya peluang dialog politik".

Namun, rencana penyebaran pasukan NATO di Polandia dan negara-negara Baltik telah menimbulkan reaksi negatif dari Kremlin. Rencana tersebut pun menimbulkan keraguan terhadap niat NATO yang dikatakan ingin "memperbaiki" hubungan dengan Moskow.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.