Menlu Lavrov: AS Minta Rusia Tak Serang Front al-Nusra

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Washington telah meminta Rusia untuk "lebih berhati-hati" dalam menargetkan serangan udara mereka terhadap front al-Nusra.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Washington telah meminta Rusia untuk "lebih berhati-hati" dalam menargetkan serangan udara mereka terhadap front al-Nusra.

Flick.com / MFA Russia
AS meminta Rusia untuk tidak melakukan serangan udara terhadap front Jabhat al-Nusra dengan alasan khawatir serangan udara yang dilancarkan dapat mengenai kelompok "oposisi moderat".

Washington telah meminta Moskow untuk tidak melakukan serangan udara terhadap front Jabhat al-Nusra, yang merupakan cabang Al-Qaeda di Suriah, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, seperti yang dikutip media Rusia RT. Lavrov mengatakan, Amerika khawatir serangan udara Rusia terhadap al-Nusra dapat mengenai posisi "oposisi moderat" Suriah.

"Mereka (AS) mengatakan kepada kami untuk tidak melakukan serangan (terhadap front al-Nusra) karena (di wilayah tersebut) terdapat pula kelompok oposisi," kata Lavrov dalam sebuah wawancara dengan media Rusia setempat yang diterbitkan pada situs Kementerian Luar Negeri Rusia.

Menanggapi hal ini, Lavrov menekankan bahwa "kelompok-kelompok oposisi tersebut seharusnya telah meninggalkan wilayah teroris". Ia mengatakan, "Rusia telah menyepakati hal itu (dengan kelompok oposisi) sejak lama" (bahwa kelompok oposisi moderat harus meninggalkan lokasi teroris agar tak terkena serangan udara -red.). 

Pada awalnya, Rusia telah menetapkan batas waktu bagi para oposisi "moderat" untuk meninggalkan wilayah yang diduduki ekstremis front al-Nusra. Namun kemudian, Rusia sepakat untuk memberi lebih banyak waktu kepada kelompok-kelompok ini untuk meninggalkan wilayah-wilayah yang akan diserang, tulis RT.

Dalam wawancara, Lavrov mengatakan bahwa Rusia percaya bahwa pengambilan langkah-langkah khusus yang lebih efektif demi melawan kelompok teroris ISIS dan front al-Nusra harus menjadi prioritas utama bagi Rusia dan AS jika krisis Suriah memang ingin diselesaikan.

"Kita perlu memberikan akses (bantuan) kemanusiaan ke berbagai permukiman yang dikepung oleh satu pihak atau lainnya. Kita juga perlu mengamankan gencatan senjata dan mencegah segala bentuk pelanggarannya, serta meluncurkan proses politik. Namun yang tak kalah penting, terorisme adalah ancaman kita bersama, dan tidak boleh ada keraguan tentang itu," kata Lavrov seraya menambahkan bahwa, sementara waktu, front al-Nusra telah berupaya untuk bergabung dengan kelompok-kelompok oposisi bersenjata lainnya.

Lavrov juga mengatakan bahwa proses politik di Suriah dicegah oleh kelompok oposisi radikal yang menolak untuk datang ke meja perundingan dan membicarakan prasyarat pembicaraan damai. Sang menlu menambahkan bahwa sangat penting untuk mengesampingkan tuntutan-tuntutan ini dan fokus pada perang melawan terorisme.

Selain itu, Menlu Lavrov juga menekankan bahwa Rusia dan AS terlibat dalam dialog yang intensif terkait situasi di Suriah. Menurutnya, hal ini mencakup diskusi lewat telepon antara dirinya Menlu AS John Kerry, serta melaui saluran konferensi video antara Pusat Rekonsiliasi Rusia untuk Suriah yang berada di Pangkalan Udara Hmeimim di Latakia dan Pangkalan AS di ibu kota Yordania, Amman, serta pusat bersama AS-Rusia di Jenewa, Swiss.

Pada hari yang sama, Lavrov mengaku telah mengadakan pembicaraan dengan John Kerry melalui telepon. Kedua menteri membahas "perang melawan ISIS dan perlunya untuk menjauhkan oposisi moderat dari kelompok Jabhat al-Nusra, serta upaya untuk memotong aliran pasokan senjata dan militan yang berasal dari luar negeri", tulis pernyataan yang dipublikasikan di situs Kemenlu Rusia.

Sementara itu, Kerry yang tengah berada di Paris mengatakan kepada wartawan bahwa selama pembicaraannya dengan Lavrov, ia telah membahas mengenai peningkatan kekerasan yang terjadi di Suriah. Kerry mengatakan, seperti yang diberitakan AP, bahwa kedua belah pihak telah bekerja demi memperkuat penegakan dan akuntabilitas gencatan senjata di Suriah. 

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Washington telah meminta Rusia untuk "lebih berhati-hati" dalam menargetkan serangan udara mereka terhadap front al-Nusra, karena serangan terhadap warga sipil atau kelompok-kelompok oposisi saat menyerang ekstremis pada akhirnya bisa memberikan lebih banyak dukungan kepada kelompok teroris.

"Menlu AS telah menyampaikan kepada Rusia dan rezim Assad bahwa mereka perlu hati-hati dan membedakan antara kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di Suriah dan pihak-pihak yang bergabung dalam gencatan senjata," kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner saat jumpa pers, Jumat (3/6). Toner pun menegaskan, AS setuju bahwa ISIS dan front al-Nusra "menimbulkan ancaman nyata terhadap keamanan di Suriah".

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.