Provokasi, Pesawat Mata-mata AS Sembilan Kali Dekati Perbatasan Rusia

Selama April, pesawat mata-mata AS telah mendekati perbatasan Rusia sebanyak sembilan kali, termasuk di Laut Baltik, di Murmanskaya Oblast, dan di Timur Jauh.

Selama April, pesawat mata-mata AS telah mendekati perbatasan Rusia sebanyak sembilan kali, termasuk di Laut Baltik, di Murmanskaya Oblast, dan di Timur Jauh.

Wikipedia
Minggu lalu, pesawat mata-mata RC-135 milik AU AS terbang di perbatasan timur Rusia. Pesawat ini mematikan transpondernya dan terbang di ketinggian yang digunakan untuk lalu lintas penerbangan sipil. Namun demikian, itu bukan pertama kalinya sebuah pesawat mata-mata AS mendekati perbatasan Rusia dalam beberapa pekan terakhir, tulis media Rusia Sputnik.

Insiden tersebut terjadi di atas perairan netral, tepatnya di atas Laut Jepang, pada 22 Mei. Menurut narasumber yang dekat dengan situasi ini, pemandu lalu lintas udara Rusia harus mengubah tingkat ketinggian dua pesawat penumpang di daerah tersebut demi menghindari terjadinya tabrakan.

Insiden tersebut pun menimbulkan pertanyaan terhadap profesionalisme pengawasan militer AS, dan sekaligus mempertanyakan apakah latihan provokatif Washington akhir-akhir ini bertujuan untuk memancing Moskow jatuh dalam konflik atau memang hanya sekadar tindakan tak kompeten tingkat tinggi, tulis Sputnik.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayjen Igor Konashenkov mengakui bahwa sehari-hari, pesawat mata-mata Amerika melakukan penerbangan di sepanjang perbatasan timur Rusia, tapi "kali ini, manuver yang dilakukan pesawat mata-mata AS di sepanjang rute udara internasional telah menciptakan ancaman nyata yang bisa berakibat pada tabrakan dengan pesawat penumpang".

Namun demikian, Juru Bicara Komando Pasifik AS (PACOM) mengatakan bahwa sama sekali tidak ada bahaya tabrakan.

Pesawat militer sering kali terbang di jalur penerbangan pesawat sipil, kata pilot penguji Rusia, Magomed Tolboyev, kepada harian Rusia Vzglyad.

"Tapi ini sangat dilarang. Hal ini dilarang oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO)," katanya.

"Tujuan dari penerbangan tersebut adalah untuk memantau situasi radio radar di daerah itu, mendeteksi koordinat pertahanan rudal Rusia, serta mengamati penempatan pasukan di wilayah itu," kata ahli militer Alexander Drobyshevskiy kepada saluran televisi Zvezda.

Pilot Rusia jauh lebih disiplin dalam masalah ini. Mereka jarang melakukan penerbangan pengintaian, kata Tolboyev.

"Tapi pilot Amerika, mereka melanggar aturan di seluruh dunia," tambahnya.

Selama April, pesawat mata-mata AS telah mendekati perbatasan Rusia sebanyak sembilan kali, termasuk di Laut Baltik, di Murmanskaya Oblast, dan di Timur Jauh.

Kepentingan pengawasan udara AS sekarang fokus tak hanya pada wilayah Timur Jauh dan Laut Baltik Rusia. Pesawat mata-mata Amerika juga telah terdeteksi di atas Laut Hitam dan di wilayah utara Rusia.

"Pada 1990-an, AS tidak melakukan penerbangan pengintaian terhadap Rusia karena pada saat itu militer kami lemah. Sekarang, mereka khawatir dengan kebangkitan kekuatan militer Rusia. Inilah mengapa Pentagon telah mengintensifkan intelijen udara," kata Vladislav Shurygin, seorang pakar, seperti yang dikutip Zvezda.

Masalah lainnya adalah apakah pesawat AS diberi wewenang untuk terbang dengan transponder yang dimatikan.

Sesuai dengan aturan ICAO, transponder harus dipasang pada setiap pesawat sipil. Pada Maret 2015, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan bahwa pesawat militer aliansi itu juga dilengkapi dengan transponder. Jika benar, pesawat mata-mata AS tampaknya telah melanggar norma-norma NATO.

Namun, Komandan Pasukan Kedirgantaraan Rusia Kolonel Jenderal Viktor Bondarev mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada pesawat militer Rusia atau NATO yang menggunakan transponder.

Tahun lalu, setelah mengajukan masalah penggunaan transponder bagi pesawat militer ke ICAO, Finlandia melakukan upaya untuk turut menyelesaikan isu ini. Menurut Bloomberg, kantor pers ICAO menjawab bahwa aturan penerbangan sipil tidak berlaku bagi pesawat militer.

Selain itu, tidak ada konvensi internasional yang secara langsung melarang terbang dengan transponder yang dimatikan, tulis Sputnik.

Analis militer dan politik Rusia Alexander Perendzhiev mengasumsikan bahwa insiden di Laut Jepang sengaja dilakukan untuk memprovokasi Rusia menjelang pelaksanaan KTT NATO mendatang di Warsawa.

"Amerika ingin mencari dalih untuk tuduhan baru terhadap Rusia. Mereka ingin membahas (ancaman) Rusia di KTT," katanya berpendapat.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.