Menlu RI: Potensi Kerja Sama Rusia-Indonesia Kini Semakin Berkembang

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi (kiri) dan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov selama penandatanganan dokumen setelah pembicaraan bilateral antara presiden Indonesia dan Rusia di keresidenan Bocharov Ruchei, Sochi, 18 Mei 2016.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi (kiri) dan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov selama penandatanganan dokumen setelah pembicaraan bilateral antara presiden Indonesia dan Rusia di keresidenan Bocharov Ruchei, Sochi, 18 Mei 2016.

Host Photo Agency
Setelah KTT Rusia-ASEAN, potensi kerja sama antara Rusia dan Indonesia kini semakin berkembang.

Setelah KTT Rusia-ASEAN pada 19 – 20 Mei lalu di Sochi dan pertemuan bilateral antara Presiden RI Joko Widodo dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 18 Mei, potensi kerja sama antara kedua negara kini semakin berkembang. Demikian hal tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi Rusia dan Indonesia, seperti yang dipublikasikan situs resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.

Menurut Retno, potensi pengembangan kerja sama Rusia-Indonesia antara lain ada pada peningkatan ekspor kelapa sawit, ikan, produk perikanan, buah, dan sayuran, serta potensi pariwisata dan diversifikasi investasi.

“Khusus mengenai masalah investasi, salah satu komitmen yang dicapai di bidang investasi adalah pembangunan kilang minyak senilai 13 miliar dolar AS. Pascapertemuan bilateral dengan Rusia, telah ditandatangani lima kesepakatan kerja sama, yaitu di bidang pertahanan, bidang penangkapan ikan ilegal, arsip nasional, kebudayaan, dan arsip kementerian luar negeri,” kata sang menlu saat memberikan keterangan mengenai kunjungan kenegaraan ke Rusia.

Retno menambahkan, pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Vladimir Putin selama di Sochi berlangsung dalam suasana yang sangat bersahabat dan terbuka. Menurutnya, semangat untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang juga sangat terlihat, baik pada level pemerintah maupun level swasta.

Selama mengikuti KTT, presiden Indonesia menyampaikan beberapa hal: pertama, kemitraan ASEAN dan Rusia harus membawa manfaat bagi perdamaian dan kemakmuran dunia. Kedua, presiden menekankan pentingnya pembangunan arsitektur keamanan kawasan yang mengedepankan sentralisasi ASEAN, dan meminta dukungan Rusia terhadap konsep arsitektur keamanan kawasan yang diusulkan oleh Indonesia. Selain itu, presiden RI juga menekankan pentingnya kerja sama ekonomi dalam konteks ASEAN-Rusia, terutama pada bidang energi, UMKM, dan konektivitas.

Pada saat yang sama, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution juga menjelaskan mengenai kerja sama dengan kawasan Eurasia. Ia mengemukakan bahwa Rusia menawarkan kesepakatan agar ASEAN bersedia membangun kerja sama dan meningkatkan kerja sama dengan Eurasia.

“Yang menarik, ternyata sudah ada beberapa negara ASEAN lain yang sudah memulai. Singapura sudah menandatangani perjanjian tersebut, Vietnam juga sudah menandatangani. Jadi, kita tentu saja akan mempelajarinya dan kita tidak boleh ketinggalan kereta,” kata Darmin menjelaskan.

“Banyak peminat serius dan kami menganggap pertemuan kali ini tidak hanya sekadar ‘janji-janji’, sangat terlihat bahwa pihak Rusia sudah memulai, misalnya seperti di bidang pariwisata. Rusia sudah melihat tempatnya dan sudah tahu di mana letaknya, Rusia tinggal menunggu persetujuan dari pemerintah,” kata menko perekonomian.

Presiden Joko Widodo tiba dari Rusia di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, pada Sabtu (21/05). Kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu disambut oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dan  sejumlah menteri Kabinet Kerja, yang kemudian langsung melakukan pertemuan di ruang VVIP selama sekitar 20 menit.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.