Indonesia Tertarik dengan Investasi Infrastruktur dan Kilang Minyak Rusia

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di sela-sela konferensi pers seusai pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di sela-sela konferensi pers seusai pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Host Photo Agency
Indonesia tertarik dengan investasi Rusia di bidang infrastruktur, termasuk pembangunan kilang minyak.

Indonesia tertarik dengan investasi Rusia di bidang infrastruktur, termasuk pembangunan jalur kereta dan pelabuhan di Kalimantan, dan kilang minyak, kata Presiden Indonesia Joko Widodo setelah pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di Sochi, Rabu (18/5).

"Kami telah sepakat untuk meningkatkan kerja sama investasi," kata presiden RI. "Kami tertarik dengan investasi Rusia di berbagai bidang, seperti budaya kelautan, pertanian, dan infrastruktur. Kami tertarik dalam pengembangan dan kelanjutan proyek pembangunan jalur kereta api dan pelabuhan di Kalimantan, serta proyek-proyek pengilangan minyak," tambah sang presiden.

Menurut Widodo, masalah yang berkaitan dengan penguatan kerja sama antara kedua negara di berbagai sektor strategis, seperti ekonomi dan hubungan investasi, serta kerja sama militer, juga dibahas dalam pertemuan tersebut. "Kami yakin bahwa Indonesia dan Rusia dapat secara signifikan meningkatkan dan memperkuat kerja sama ekonomi antara kedua negara," kata Widodo.

Widodo menambahkan bahwa kedua belah pihak juga sepakat untuk mencoba menghilangkan hambatan tarif dan nontarif dalam perdagangan yang saling menguntungkan. Pada saat yang sama, menurut sang presiden, Indonesia sangat tertarik pada ekspor minyak sawit ke pasar Rusia.

Pada tahun 2014, Rusia mengimpor hampir sekitar 750 ribu ton minyak kelapa sawit. Jumlah total produk lemak dan minyak yang diimpor Rusia mencapai 4,4 juta ton, sedangkan konsumsi minyak kelapa sawit mencapai 730 ribu ton. Pemasok terbesar minyak sawit di Rusia adalah Indonesia, sedangkan Malaysia berada di posisi kedua.

Siap Bantu Indonesia

Pada gilirannya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia siap untuk memberikan bantuan yang komprehensif untuk Indonesia dalam pelaksanaan program infrastruktur. "Sebuah program infrastruktur regional berskala besar sedang dilaksanakan di bawah kepemimpinan Tuan Widodo," kata Putin. "Rusia siap untuk memberikan bantuan yang komprehensif untuk mitra-mitra Indonesia kami dalam pelaksanaan program ini," tambahnya.

Dalam konteks ini, proyek bersama antara perusahaan perkeretaapian Rusia RZhD (Russian Railways) dan Indonesia yang diluncurkan tahun lalu untuk membangun jalur kereta api sepanjang 190 km di Pulau Kalimantan adalah yang paling signifikan, kata pemimpin Rusia. Pengembangan batubara, feronikel, mangan dioksida, dan tambang lainnya sedang direncanakan, kata Putin menambahkan.

Pada saat yang sama, volume investasi dalam pembangunan kilang minyak di Indonesia dengan partisipasi Rosneft diperkirakan bisa mencapai 13 miliar dolar AS. "Perusahaan kami, Zarubezhneft dan Rosneft, memiliki proyek khusus skala besar yang sangat serius," kata presiden Rusia. "Itu termasuk pembangunan kilang minyak modern di Bali dengan kemungkinan investasi sebesar 13 miliar dolar AS," tambahnya.

Menurut pemimpin Rusia, ada suatu landasan untuk memperluas kerja sama energi. Putin mengatakan, pembangunan pembangkit listrik tenaga termal dengan bantuan Inter RAO dengan kapasitas 1,8 GW juga tengah direncanakan. Volume investasi proyek ini akan bernilai 2,8 miliar dolar AS. "Saat ini, Rosatom bekerja pada pembangunan reaktor eksperimental berdaya rendah," katanya.

Pertama kali dipublikasikan oleh TASS.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.