Petinggi NATO Akui Pasukan Pelopor Masih Terlalu Rentan untuk Lawan Rusia

Para jenderal senior NATO mengakui kesiapan Pasukan Pelopor masih "terlalu rentan" untuk melawan Rusia selama fase penyebarannya.

Para jenderal senior NATO yang mengetahui perencanaan logistik dan militer aliansi tersebut mengakui bahwa kesiapan tinggi Pasukan Pelopor masih "terlalu rentan" untuk melawan Rusia selama fase penyebarannya. Demikian hal tersebut dilaporkan Sputnik.

Pada KTT NATO di Wales, September 2014, anggota NATO sepakat untuk mendirikan Satuan Tugas Gabungan dengan Kesiapan Tinggi (VJTF) yang terdiri dari 5.000 pasukan dalam tempo penyebaran selama 48 jam.

"Rusia memiliki sistem antipesawat dan rudal antikapal, baik yang berbasis di darat maupun di laut, serta pesawat tempur yang berbasis di Kaliningrad Oblast dan bagian lain wilayahnya yang mampu meliputi area yang sangat luas," kata seorang juru bicara NATO, seperti dikutip The Financial Times.

Seorang jenderal senior NATO mengatakan, berbagai aset substansial militer Rusia di sepanjang perbatasan Lithuania dan Polandia membuat VJTF (seperti) "diserang" bahkan sebelum siap untuk melawan.

Sang juru bicara menekankan bahwa NATO "sepenuhnya menyadari" kemampuan Rusia di eksklave baratnya, Kaliningrad, yang "menimbulkan tantangan" bagi 28 anggota aliansi Barat.

"Kami sedang mempertimbangkan dimensi-dimensi tambahan, sementara kami memperkuat dan memodernisasi sistem pencegahan dan pertahanan, sebelum KTT Warsawa (8 – 9 Juli)," katanya menambahkan.

Kekurangan VJTF dilaporkan menjadi alasan mengapa menteri luar negeri NATO diperkirakan akan bertemu pekan ini dan menambah isu penyebaran empat batalion di Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia, ke dalam agenda KTT Warsawa.

Salah seorang diplomat Polandia mengatakan pasukan tambahan di sepanjang perbatasan Rusia adalah kebutuhan absolut yang paling minimum demi mencegah ancaman Rusia yang mereka "rasakan".

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.