Joko Widodo: Rusia Adalah Sahabat Lama dan Mitra Strategis Indonesia

Kepada TASS, presiden RI menjelaskan berbagai isu pengembangan hubungan Rusia dengan negara-negara ASEAN, serta memberikan penilaian terhadap keadaan hubungan ekonomi dan perdagangan antara Rusia, tak lupa menjelaskan pendekatan yang diambil Jakarta terkait krisis Suriah dan sekaligus dalam memerangi terorisme internasional.

Kepada TASS, presiden RI menjelaskan berbagai isu pengembangan hubungan Rusia dengan negara-negara ASEAN, serta memberikan penilaian terhadap keadaan hubungan ekonomi dan perdagangan antara Rusia, tak lupa menjelaskan pendekatan yang diambil Jakarta terkait krisis Suriah dan sekaligus dalam memerangi terorisme internasional.

Twitter/Joko Widodo
Menjelang KTT Rusia-ASEAN pada 19 – 20 Mei mendatang di Sochi, Rusia, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memberikan wawancara eksklusif kepada TASS.

TASS (T): Bapak Presiden, terima kasih atas kesempatan yang Anda berikan kepada kantor berita TASS. Meskipun sudah pernah mengunjungi kota-kota Rusia, kunjungan Anda ke Sochi mendatang akan menjadi kunjungan pertama Anda sebagai presiden ke Rusia. Apa harapan Anda selama kunjungan mendatang dan sekaligus turut bepartisipasi dalam KTT Rusia-ASEAN?

Joko Widodo (J.W.): Saya sudah pernah bertemu dengan Presiden Vladimir Putin di Beijing, Paris, Brisbane, dan Istanbul. Saya yakin bahwa KTT ini akan memperkuat hubungan antara ASEAN dan Federasi Rusia. Rusia adalah mitra strategis ASEAN, dan tentunya Indonesia. Pada pertemuan puncak KTT Rusia-ASEAN mendatang, para pemimpin negara-negara ASEAN dan Rusia akan membahas bagaimana kerja sama kami harus diperkuat di masa depan.

T: Bagaimana Anda menilai keadaan perdagangan bilateral dan hubungan ekonomi antara kedua negara?

J.W.: Indonesia dan Rusia adalah sahabat dekat sejak lama. Kami sangat menghargai kontribusi Rusia untuk pembangunan ekonomi Indonesia. Pada saat yang sama, kami berharap untuk dapat meningkatkan volume perdagangan dengan Rusia. Tentu saja, kami juga mengundang investor Rusia ke Indonesia. Kami pun tertarik untuk meningkatkan arus wisatawan dari Rusia.

T: Bapak Presiden, bidang ekonomi Indonesia apa yang mungkin akan menarik bagi investor Rusia?

J.W.: Saat ini, kami secara aktif membangun infrastruktur. Kami percaya bahwa Rusia dan Indonesia dapat bekerja sama dalam pelaksanaan berbagai proyek infrastruktur. Misalnya, pembangunan pembangkit listrik dan kerja sama di sektor kereta api. Saya yakin bahwa Rusia memiliki banyak pengalaman di bidang ini. Selain itu, Indonesia juga butuh investasi dalam pengembangan pelabuhan dan bandara.

T: Bapak Presiden, salah satu tujuan utama pemerintah Indonesia saat ini adalah untuk meningkatkan volume modal asing. Bisakah Anda menjelaskan secara umum kebijakan Jakarta terkait hal ini?

J.W.: Laju pembangunan ekonomi pada kuartal terakhir 2015 adalah sebesar 5,04 persen, sedangkan pada kuartal pertama tahun ini, PDB meningkat sebesar 4,92 persen, di tengah adanya perlambatan dalam ekonomi global

Indonesia terus ingin mengurangi regulasi dari pemerintah, serta percepatan pembangunan infrastruktur.

Selain itu, kami juga meluncurkan program reformasi ekonomi, yang — antara lain — mencakup langkah-langkah untuk mendukung investor lokal dan asing dan juga menyediakan akses modal asing ke lebih banyak sektor ekonomi. Selain itu, program pembangunan ekonomi dibuat untuk mengurangi, dan — pada akhirnya — menghilangkan hambatan birokrasi, penyederhanaan prosedur perizinan bagi investor, serta menciptakan insentif pajak, seperti tax holiday (pembebasan pajak yang diberikan kepada perusahaan yang baru dibangun pada sebuah negara dalam periode tertentu -red.) dan pembebasan pajak parsial. Pada waktu yang sama, kami berniat untuk menciptakan zona khusus ekonomi dan industri.

Tugas saya adalah membentuk perekonomian nasional lebih terbuka dan kompetitif.

T: Apa posisi Indonesia mengenai situasi di Suriah?

J.W.: Kami berharap bahwa konflik di Suriah dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Rakyat Suriah telah sangat menderita. Menurut pendapat saya, dialog sangat penting untuk mengatasi krisis di Suriah.

T: Indonesia, seperti kebanyakan negara lainnya, juga berhadapan langsung dengan ancaman terorisme. Bagaimana otoritas Indonesia memerangi ancaman terorisme?

J.W.: Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi muslim terbesar. Populasi kami 252 juta orang, yang 70 persen di antaranya adalah muslim. Dalam memerangi terorisme, radikalisme, dan ekstremisme, kami menggunakan pendekatan yang “keras” (hard power) dan “lunak” (soft power).

Pendekatan yang “keras” berarti dengan memperketat undang-undang, sedangkan “lunak” berarti dengan pendekatan budaya dan agama.

Saya pikir banyak negara yang hanya menggunakan metode pertama, mereka tidak menerapkan pendekatan “lunak”. Kami punya dua organisasi Islam terbesar (di Indonesia). Kami bekerja sama dengan mereka untuk mempromosikan Islam moderat dan toleransi. Selain itu, tahun ini kami berniat untuk mengadopsi versi terbaru undang-undang antiterorisme. Saya telah mengajukan RUU-nya kepada DPR dan berharap bahwa itu akan segera disetujui.

T: Bapak Presiden, kembali ke masalah perkembangan hubungan bilateral. Pariwisata adalah salah satu sektor yang sangat penting bagi Indonesia. Namun, kebanyakan wisatawan Rusia hanya mengetahui Pulau Bali. Padahal, di Indonesia ada banyak tempat indah lainnya. Destinasi wisata mana saja yang akan Anda rekomendasikan untuk dikunjungi?

J.W.: Kami memiliki banyak tujuan wisata. Misalnya, Provinsi Papua, Pulau Komodo, dan, tentu saja, kampung halaman saya, Solo (Jawa Tengah), Sumatera Utara, Sulawesi, dan banyak lagi. Kita harus bekerja sama untuk pengembangan pariwisata di Indonesia. Kami telah memperkenalkan peraturan bebas visa bagi wisatawan dari berbagai negara, termasuk dari Rusia.

T: Biasanya, wisatawan asing tertarik untuk mengeksplorasi cita rasa masakan lokal. Hidangan khas Indonesia apa yang menjadi favorit Anda, dan apa yang dapat Anda rekomendasikan untuk dicicipi turis Rusia?

J.W.: Saya sarankan sate daging kambing, yang di Indonesia disebut “sate kambing”. Yang paling enak dibuat di Solo.

T: Bapak Presiden, saya berharap bahwa ketika Anda berada di Sochi, Anda juga dapat mencoba hidangan tradisional Rusia.

J.W.: Ya, saya pasti ingin mencoba sup borshch, saya akan minta dari Presiden Putin.

T: Seperti yang Anda ketahui, pada 2018, Rusia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Apakah Anda termasuk pencinta sepak bola? Adakah rencana untuk mengunjungi Rusia pada saat itu?

J.W.: Ya, saya mencintai sepak bola. Saya selalu bersorak untuk mendukung tim nasional kami. Dan jika memungkinkan, saya tentu ingin mengunjungi Rusia selama Piala Dunia.

T: Sebelumnya, Anda sudah pernah berkunjung ke Rusia. Bisakah Anda menceritakan kesan Anda saat ke Rusia pertama kali?

J.W.: Ketika saya masih menjalankan bisnis (furnitur), saya datang ke Moskow untuk bepartisipasi dalam sebuah pameran furnitur. Ketika saya menjabat sebagai walikota Solo, saya mengunjungi Kazan untuk bepartisipasi dalam konferensi konservasi warisan perkotaan. Ada banyak sisa-sisa bangunan kuno di Kazan, dan saya benar-benar menyukai bagaimana bangunan-bangunan itu dikonservasi dan dipulihkan. Di Moskow, saya pernah ke Kremlin, saya sangat suka di sana.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia oleh TASS, diwawancarai oleh Yevgeny Solovev.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.