Antisipasi ‘Agresi Rusia’, NATO Kirim Empat Batalion ke Polandia dan Baltik

Berbagai laporan menunjukkan bahwa AS kemungkinan akan menyediakan dua batalion.

Sekutu-sekutu Barat kini tengah mempersiapkan untuk menempatkan empat batalion tambahan dengan kekuatan sekitar 4.000 tentara di Polandia dan negara-negara Baltik sebagai upaya NATO untuk "memperkuat perbatasannya dengan Rusia". Demikian hal tersebut dilaporkan Sputnik.

Berbagai laporan menunjukkan bahwa AS kemungkinan akan menyediakan dua batalion, sedangkan Jerman dan Inggris masing-masing akan mengirimkan satu batalion.

Mengomentari alasan di balik keputusan NATO tersebut, Direktur Akademik Akademi Federal Jerman untuk Kebijakan Keamanan (BAKS) Karl-Heinz Kamp mendeskripsikan aksi tersebut seperti perdebatan anak-anak di taman bermain yang saling mengklaim bahwa "temannya" yang lebih dulu "memulai".

Dalam sebuah wawancara telepon dengan stasiun radio Jerman Deutschlandfunk, Kamp menjelaskan bahwa Rusia bisa dikatakan "memulai" (agresi) ketika, misalnya, Rusia mengatakan bahwa dalam tiga minggu mereka akan menaklukkan negara-negara Baltik.

Namun, sang pakar tidak menyebutkan bahwa sebuah laporan dari lembaga analis Amerika Rand Corporation, bahkan telah membuat kesimpulan yang lebih mengerikan. Dalam laporan tersebut dikatakan, jika tank dan tentara Rusia meluncur ke Baltik esok hari, pasukan dan persenjataan NATO yang kalah jumlah akan dihabisi dalam tempo tiga hari, bukan tiga minggu.

Karl-Heinz Kamp mengatakan bahwa tujuan pergerakan NATO adalah sebagai "upaya antisipasi". Namun demikian, menurut Kamp, hal tersebut sama sekalo tidak berarti karena NATO bukanlah negara yang memiliki uang, sarana, ataupun rakyat untuk dilindungi sehingga langkah-langkah pencegahan perlu diambil secara lebih intens.

Kamp mengungkapkan, keputusan tersebut pun telah menuai banyak kritik di negara asalnya.

Rakyat Jerman Menentang

Sebuah jajak pendapat terbaru yang dilakukan Yayasan Bertelsmann, sebuah yayasan swasta nonprofit terbesar yang beroperasi di Jerman mengungkapkan bahwa lebih dari setengah warga Jerman (57 persen) percaya bahwa negara mereka tidak harus mengirim pasukan untuk melindungi negara-negara Baltik dan Polandia demi melawan "serangan dari Rusia".

Sementara, hampir setengah rakyat dari Jerman (49 persen) menentang pendirian pangkalan NATO di negara-negara anggota Eropa Timur aliansi tersebut demi "mencegah Rusia", sementara 40 persen lainnya mengatakan mereka akan mendukung langkah tersebut.

Gregor Gysi, seorang tokoh anggota parlemen sayap kiri, mengecam pemerintah Jerman dengan mengatakan bahwa langkah tersebut akan menjadi sinyal buruk pada malam peringatan ke-75 invasi Nazi Jerman terhadap Uni Soviet pada Juni mendatang.

"Kebetulan, dalam sejarah pun situasi yang terjadi cukup mirip: bukan Rusia yang menginvasi Jerman, melainkan Jermanlah yang menyerang Rusia," kata Gysi di halaman Facebook-nya.

"Mengirimkan pasukan ke perbatasan Rusia adalah bentuk pengabaian terhadap sejarah dan eskalasi," tambahnya.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.