Profesor AS: Aksi NATO Bangkitkan Memori Invasi Nazi Jerman bagi Rusia

Seorang pilot helikopter tentara AS Sikorsky UH-60 'Black Hawk' menunggu di pangkalan udara di Zaragoza, timur laut Spanyol, 27 Oktober 2015, selama demonstrasi yang diadakan sebagai bagian latihan NATO 'Trident Juncture 2015'. Sekitar 36 ribu tentara dari lebih 30 negara ikut ambil bagian dalam latihan yang berlangsung hingga 6 November di Spanyol, Portugal, Italia, dan negara-negara lainnya.

Seorang pilot helikopter tentara AS Sikorsky UH-60 'Black Hawk' menunggu di pangkalan udara di Zaragoza, timur laut Spanyol, 27 Oktober 2015, selama demonstrasi yang diadakan sebagai bagian latihan NATO 'Trident Juncture 2015'. Sekitar 36 ribu tentara dari lebih 30 negara ikut ambil bagian dalam latihan yang berlangsung hingga 6 November di Spanyol, Portugal, Italia, dan negara-negara lainnya.

EPA
Aliansi Atlantik Utara meningkatkan kehadiran militernya di negara-negara Baltik dan di Polandia yang berada dekat dengan perbatasan barat Rusia, kata Stephen F. Cohen, profesor emeritus studi Rusia di Universitas New York dan Universitas Princeton, dalam sebuah wawancara baru-baru ini di acara The John Batchelor Show.

Cohen berpendapat, dalam konteks ini, keputusan Moskow yang mengirimkan pesawat (Su-24) untuk memeriksa kapal perusak Donald Cook AS, yang berlayar tak jauh dari pangkalan militer angkatan laut Rusia di Kaliningrad, dapat dimengerti. Sang profesor menekankan bahwa biar bagaimana pun kapal perusak Donald Cook "bukanlah perahu nelayan".

"Saya memperhatikan NATO terus bergerak mendekati perbatasan Rusia, baik di darat, udara, maupun di laut. Namun, AS terus mengatakan bahwa Rusia terus melakukan provokasi. Seseorang dari militer bahkan mengatakan, 'Putin menggerakkan pasukannya lebih dekat ke NATO'. Padahal, NATO-lah yang bergerak lebih dekat ke Rusia. Rusia sama sekali tidak bergerak. Dia tetap berada pada tempatnya. NATO-lah yang telah terus bergerak sejak tahun 1990-an," kata Profesor Cohen menegaskan, sebagaimana yang dikutip media Rusia Sputnik.

Ketika Rusia bereaksi terhadap manuver NATO, semua ini disajikan sebagai "agresi Putin" terhadap Eropa, negara-negara Baltik, dan NATO.

Cohen mengingatkan, meskipun kapal perusak AS sedang berlayar di perairan internasional, kapal tersebut hanya berada 70 kilometer dari wilayah Rusia.

Mengomentari masalah ini, analis politik Inggris Finian Cunningham menulis dalam artikelnya untuk Sputnik:

"Mari kita jalankan skenario serupa untuk menyoroti bagaimana exceptionalism Amerika telah menjadi suatu sikap doublethink kronis yang tak rasional. Jika sebuah kapal perang Rusia mendekati garis pantai AS dengan cara yang sama, bahkan jika secara teori berada di perairan internasional, dapat kita yakini bahwa jet tempur AS akan segera dikerahkan. Duta besar Rusia pun kemungkinan akan segera dipanggil Washington."

The American Exceptionalism

Pada tahun 1835, Alexis de Tocqueville (1805 – 1859) adalah seorang ilmuwan politik Prancis yang menulis “Democracy in America” dan memperkenalkan apa yang kini disebut sebagai “The American Exceptionalism”. Secara historis, American Exceptionalism merujuk pada persepsi bahwa AS berbeda dengan negara maju lainnya karena keunikan (unique origins), prinsip-prinsip nasional (national credo), perjalanan sejarah (historical evolution), dan perbedaan institusi keagamaan dan politik (distinctive political and religious institutions).

Ide besar konsep ini adalah bahwa AS memegang peran khusus di dunia dalam mempromosikan peluang dan harapan bagi kemanusiaan yang ditarik dari keseimbangan antara kepentingan publik dan kepentingan individu yang ditata melalui konstitusi ideal dan difokuskan kepada kebebasan ekonomi dan individu.

"Pertanyaan mendasarnya adalah: siapa yang memprovokasi siapa," kata Profesor Cohen menegaskan.

"Sulit untuk melihat dari sisi mana Rusia mengancam NATO. Rusia hanya menanggapi apa yang NATO lakukan," tegasnya.

NATO Bangkitkan Kenangan Buruk Atas Invasi Nazi

Lebih lanjut, Cohen menjelaskan bahwa pergerakan NATO hanya akan membangkitkan kenangan buruk dalam pikiran rakyat Rusia atas invasi Nazi Jerman pada 1941. Itu adalah terakhir kalinya kekuatan militer yang cukup besar dimobilisasi ke perbatasan barat negara itu.

"Jika Anda melihat ini melalui perspektif Rusia, belum ada kekuatan yang cukup tangguh mengumpulkan militernya di perbatasan Rusia sejak invasi Jerman pada tahun 1941. Dan ini mungkin memori pahit yang paling membakar di Rusia. Sebanyak 27,5 juta warga Soviet tewas dalam perang (Perang Patriotik Raya)," kata Cohen.

Sang akademisi AS menekankan bahwa kini menjadi jelas bahwa partai perang Washington berhasil dalam melemahkan potensi détente (pengurangan hubungan ketegangan, terutama dalam situasi politik. -red.) antara Rusia dan AS. Sebelumnya, ada kemungkinan bahwa gencatan senjata di Suriah yang ditengahi Rusia dan AS akan memfasilitasi pemulihan hubungan antara Moskow dan Washington. Sayangnya, situasi kini menjadi semakin buruk: "partai perang atau partai sanksi AS" telah melepaskan habis-habisan kampanye media demi melawan kerja sama dengan Rusia.

Takut "Rusia Bangkit Kembali"

Sementara itu, komandan baru NATO untuk wilayah Eropa Jenderal AS Curtis Scaparrotti, penerus Philip Breedlove, telah mengisyaratkan bahwa NATO akan terus mengerahkan militernya di Eropa Timur demi "melawan Rusia bangkit kembali".

"Kita menghadapi kebangkitan Rusia dan perilaku agresif yang menantang norma-norma internasional," kata Scaparrotti dalam sebuah keterangan resmi awal pekan ini.

Sang jenderal AS menambahkan bahwa NATO harus "siap bertarung jika pencegahan gagal tercapai".

Scaparrotti juga berusaha memperjuangkan rencana untuk menyebarkan brigade militer permanen ketiga pasukan Amerika di Eropa. Perlu dicatat bahwa saat ini sekitar 65 ribu personel militer AS secara permanen ditempatkan di Eropa.

Pertanyaannya kini apakah para pembuat kebijakan Washington tengah tidur sambil berjalan ke arah konfrontasi langsung dengan Rusia atau apakah mereka memang secara aktif mencari peluang tersebut, tanya Cohen.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.