Survei, Mayoritas Masyarakat Rusia Kini Harapkan Pertolongan Tuhan

Sebanyak 67 persen dari responden mengatakan mereka berharap pertolongan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari sampai batas tertentu.

Sebanyak 67 persen dari responden mengatakan mereka berharap pertolongan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari sampai batas tertentu.

Reuters
Sebanyak 67 persen dari responden mengatakan mereka berharap pertolongan Tuhan.

Masyarakat Rusia semakin sering mengharapkan pertolongan Tuhan dan/atau semakin sering berbicara tentang takdir dan nasib manusia yang ditentukan Tuhan, dua kali lebih sering dalam 25 tahun terakhir. Hal tersebut diungkapkan para sosiolog, mengutip hasil jajak pendapat yang dilakukan Pusat Riset Opini Publik Rusia (VTsIOM).

Survei dilakukan terhadap 1.600 orang yang tinggal di 130 daerah berpenduduk dari 46 wilayah di Rusia ini dilakukan pada 23 – 24 April.

Sebanyak 67 persen dari responden mengatakan mereka berharap pertolongan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari sampai batas tertentu. Jumlah ini meningkat 18 persen dari survei serupa yang dilakukan pada 1991 (49 persen).

Sementara, hanya 14 persen responden yang mengatakan mereka tidak percaya pada Tuhan (pada 1991, jumlahnya 21 persen) dan 11 persen lainnya mengatakan mereka tidak berharap bantuan Tuhan. Tiga persen dari responden menjawab secara berbeda dan lima persen lainnya ragu-ragu.

Dibandingkan dengan tahun 1991, masyarakat Rusia kini lebih percaya pada fenomena yang berhubungan dengan agama. Sebanyak 50 persen dari responden mengatakan bahwa mereka percaya pada keajaiban spiritual. Angka ini meningkat 18 persen dari tahun 1991 (32 persen). Selain itu, 46 persen responden (25 tahun yang lalu, 33 persen) yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian. Hasil survei juga menunjukkan bahwa 40 persen responden percaya dengan kehadiran iblis dan neraka (pada 1991, hanya 25 persen dan 24 persen saja).

Menanggapi pertanyaan apakah kehidupan manusia diatur oleh kekuatan yang lebih tinggi, sebanyak 48 persen dari responden mengatakan bahwa mereka percaya dengan hal itu (pada 1991, hanya 25 persen).

Lebih lanjut, 45 persen responden yang disurvei pada tahun 1991 mengatakan bahwa kehidupan manusia tak bergantung pada rencana Tuhan, dan sekarang, hanya 26 persen dari responden yang mengatakan demikian. Secara imbang, persentasi responden yang tidak setuju dan setuju bahwa kehidupan manusia telah ditakdirkan Tuhan sebesar 18 persen.

Berbicara tentang apakah karya antiagama harus dilarang di tingkat legislatif, sebeser 58 persen responden menjawab secara positif. Indikator ini tidak berubah sejak tahun 1991 (58 persen). Sementara, hanya 25 persen responden menentang larangan tersebut, dan 17 persen lainnya ragu-ragu.

"Tidak Satu Pun Gereja yang Kosong"

Munculnya sentimen agama di kalangan warga telah disadari, terutama oleh Gereja Ortodoks Rusia. Jumlah umat terus tumbuh tidak hanya secara kuantitatif, tetapi juga secara kualitatif, kata Kepala Layanan Pers Patriark Alexander Volkov kepada RBTH.

"Kami mengalami gelombang pertama kepedulian terhadap agama hanya setelah periode Soviet, ketika orang-orang berbondong-bondong pergi ke gereja. Namun, itu semua tidak selalu berasal dari kesadaran diri," kata Volkov. "Sekarang, orang-orang melakukannya dengan penuh pemikiran dan kesadaran."

Gereja telah menarik perhatian dan selama lima tahun terakhir, Moskow secara signifikan telah meningkatkan jumlah paroki, dari 894 pada 2012 hingga 1.110 pada 2015. Namun menurut Volkov, ini semua belum cukup.

"Sekarang, kita mengerti bahwa kita membutuhkan lebih banyak gereja," katanya. "Tidak satu gereja pun yang dibangun kosong. Semua penuh atau bahkan penuh sesak."

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.