Kemenhan Rusia: 70 Daerah Berpenduduk di Suriah Sepakati Gencatan Senjata

Negosiasi penghentian permusuhan masih terus berlangsung.

Jumlah daerah berpenduduk di Suriah yang telah bergabung dengan kesepakatan penghentian permusuhan telah berkembang hingga mencapai 70 daerah. Demikian hal ini disampaikan Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan di Facebook.

Kegubernuran adalah suatu subdivisi negara. Untuk negara-negara Arab, istilah ini umumnya diterjemahkan dari bahasa Arab muhafazah.

"Kesepakatan rekonsiliasi telah tercapai dengan perwakilan dari daerah berpenduduk di Kegubernuran Homs. Jumlah daerah bependuduk yang telah bergabung dengan proses rekonsiliasi kini telah berkembang menjadi 70 daerah," kata kementerian.

Sementara, jumlah kelompok bersenjata ilegal yang telah menyatakan komitmen mereka untuk penghentian permusuhan telah mencapai 50 kelompok, kata kementerian menambahkan.

Kementerian juga mengatakan bahwa negosiasi penghentian permusuhan juga masih terus dilanjutkan dengan komandan lapangan kelompok oposisi bersenjata di Kegubernuran Homs.

Kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Rusia dan AS mulai berlaku pada 27 Februari lalu di seluruh Suriah. Gencatan senjata ini didukung baik oleh pemerintah Suriah maupun puluhan kelompok oposisi lainnya di negara tersebut. Sementara, kelompok teroris ISIS, front al-Nusra, dan organisasi teroris lainnya yang diakui PBB tidak dimasukkan ke dalam kesepakatan tersebut

Pada Senin (14/3) malam, layanan pers Kremlin mengumumkan bahwa setelah percakapan telepon antara Presiden Putin dan Presiden Bashar Assad, kedua pemimpin sepakat untuk menarik bagian utama Pasukan Kedirgantaraan Rusia dari negara tersebut. Hal ini dilakukan karena Angkatan Bersenjata Rusia dianggap telah memenuhi misi fundamental yang telah ditugaskan kepada mereka.

Menurut statistik PBB, pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah dan gerilyawan sejak awal 2011 telah menewaskan lebih dari 220 ribu jiwa dan menelantarkan jutaan rakyat sipil. Berbagai kelompok militan di Suriah membentuk formasi bersenjata, tapi yang paling aktif melawan pasukan pemerintah adalah kelompok teroris ISIS dan front Jabhat al-Nusra.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.