Pemimpin Palestina Dijadwalkan Temui Putin di Moskow pada 18 April

Abbas diperkirakan akan membahas inisiatif Prancis untuk melanjutkan negosiasi yang terhenti antara Israel dan Palestina.

Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas akan tiba di Moskow pada 17 April mendatang untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 18 April. Kedua pemimpin akan membahas berbagai isu di Timur Tengah serta hubungan bilateral Rusia dan Palestina. Demikian hal tersebut diungkapkan Duta Besar Palestina untuk Rusia Abdel Hafiz Nofal kepada Sputnik.

"Mahmoud Abbas akan tiba ke Moskow dari Paris pada 17 April untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan tersebut akan membahas perkembangan hubungan bilateral Rusia-Palestina, koordinasi terkait perkembangan politik di tengah krisis Timur Tengah — sehubungan dengan banyaknya negosiasi yang dihentikan di antara berbagai pihak di kawasan tersebut, serta peran Rusia dalam isu-isu tersebut," kata Nofal.

Menurut Nofal, kedua pemimpin diperkirakan akan membahas inisiatif Prancis untuk melanjutkan negosiasi yang terhenti antara Israel dan Palestina demi menyelesaikan konflik di antara mereka.

"Karena presiden akan tiba dari Paris, yang di sana ia berencana untuk membahas inisiatif Prancis untuk mengadakan konferensi internasional tentang krisis Timur Tengah, Abbas akan membicarakan dengan Presiden Putin terkait usulan dari Prancis tersebut," kata sang dubes.

Dubes Palestina menambahkan bahwa dalam kunjungan ke Moskow, Abbas akan didampingi Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki dan Kepala Negosiator Saeb Erekat.

Rakyat Palestina masih terus mencari pengakuan diplomatik dan ekonomi untuk negara merdeka mereka yang mencakup wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur yang sebagian diduduki Israel, dan Jalur Gaza. Pemerintah Israel sejauh ini menolak untuk mengakui negara Palestina sebagai entitas diplomatik independen.

Pada akhir Januari, Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius mengusulkan inisiatif untuk mengatur sebuah konferensi internasional demi membantu melanjutkan pembicaraan Israel-Palestina yang terhenti. Fabius menekankan bahwa Paris siap untuk mengakui negara Palestina jika perundingan tidak membuahkan hasil. Menanggapi hal ini, Israel telah menyatakan penolakannya terhadap rencana Prancis.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.