Ukraina Tuduh Rusia Terlibat dalam Sederetan Aksi Teror di Eropa

Sebelumnya, Kepala Dinas Keamanan Ukraina Vasily Gritsak telah lebih dulu menyatakan tuduhan tersebut.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Ukraina Aleksander Turchinov menghubung-hubungkan serangan di Brussel, Paris, dan Turki dengan perang hibrida Rusia. Demikian hal tersebut dilansir Korrespondent.net.

Perang Hibrida

Perang hibrida digunakan untuk menyebut serangkaian serangan infromasi yang mungkin berlangsung selama lima sampai sepuluh tahun. Pada tahap ini, kekuatan oposisi dibentuk di negara yang diserang dengan memanfaatkan kalangan anak muda yang mendukung nilai-nilai Barat. Kemudian, tekanan eksternal diberikan melalui instrumen ekonomi. Itulah cara mempersiapkan "revolusi warna" dan pergantian rezim. Penggunaan metode militer diminimalisasi dan dilakukan dalam bentuk serangan jarak jauh tanpa melibatkan pasukan darat.

Menurutnya, “teror berdarah” di timur Ukraina dan sejumlah serangan teroris lainnya berasal dari dalang yang sama. Ia pun menuding Rusia berada di balik semua serangan tersebut dan menuduh Rusia dengan sengaja telah melakukan penghancuran infrastruktur sipil di Suriah. Menurutnya, arus imigran ke Eropa telah meningkat akibat hal tersebut.

Sebelum Turchynov, tudingan mengenai adanya “jejak Rusia” dalam serangan teroris Brussel telah lebih dulu dikemukakan oleh Kepala Dinas Keamanan Ukraina Vasily Gritsak. Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan bahwa kata-kata yang dilontarkan Gritsak tidak berperikemanusiaan.

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev pada gilirannya turut menyebut Gritsak “bodoh” atas tuduhan yang dilontarkannya.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Ukraina serta beberapa perwakilan lain dari Ukraina dan Barat telah berulang kali menuduh Rusia terlibat dalam pertempuran di timur Ukraina. Namun Moskow selalu membantah tuduhan tersebut.

Pada Selasa (22/3) pagi, serangkaian aksi terorisme terjadi di di Brussel, Belgia. Aksi terorisme tersebut terjadi di bandara hingga di kereta bawah tanah. Tragedi ini menewaskan 30 jiwa dengan sekitar 250 orang luka-luka. Menteri Luar Negeri Belgia Didier Reynders mencatat bahwa sebanyak 40 warga asing tewas dan terluka dalam serangan teroris tersebut.

Kelompok teroris ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan teror di Belgia.

Pertama kali dipublikasikan oleh RIA Novosti.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.