Moskow dan Beijing Anggap Penyebaran Sistem THAAD AS Sebagai Ancaman

Penyebaran sistem pertahanan rudal milik AS di Korea Selatan dianggap Moskow dan Beijing sebagai ancaman.

Moskow dan Beijing tengah mempertimbangkan kemungkinan penyebaran sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense System (THAAD) milik AS di Korea Selatan sebagai ancaman terhadap keamanan dan sepakat untuk bekerja sama mengatasi situasi tersebut. Demikian hal ini diungkapkan Duta Besar Rusia di Tiongkok Andrei Deninsov kepada kantor berita Sputnik.

Sitem pertahanan rudal THAAD dirancang untuk mencegat rudal dari ketinggian di atas atmosfer pada radius kecil dan menengah. Perundingan AS dan Korea Selatan mengenai penyebaran THAAD dimulai sejak awal Maret. Keputusan untuk memulai negosiasi mengenai THAAD dibuat setelah Korea Utara melakukan uji coba nuklir pada 6 Januari dan meluncurkan rudal balistik bersatelit pada 7 Februari yang dianggap telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Amerika Serikat yang merupakan sekutu terdekat Korea Selatan memiliki kontingen tentara yang berjumlah sekitar 30 ribu prajurit di negara tersebut.

Terkait penerapan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara sehubungan dengan uji coba nuklir dan rudal terbaru, dubes Rusia menekankan bahwa sanksi tersebut bukanlah tujuan akhir resolusi PBB. Menurutnya, tujuan utama sanksi tersebut bukanlah untuk menghukum Korea Utara yang telah melanggar hukum internasional, melainkan menciptakan kondisi untuk kembali pada perundingan enam negara mengenai denuklirisasi Semenanjung Korea.

Perundingan Enam Negara

Perundingan enam negara adalah pertemuan yang diadakan antara enam negara mengenai masalah program nuklir Korea Utara. Perundingan ini terbagi menjadi beberapa rangkaian pertemuan yang melibatkan Korea Utara, Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, dan Rusia. Perundingan ini dibuat sebagai hasil dari mundurnya Korea Utara atas Perjanjian Nonproliferasi Nuklir pada tahun 2003.

“Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan bahwa ini bukan hanya mengenai pengubahan kebijakan kepemimpinan Korea Utara dalam hal pembangunan senjata nuklir, melainkan mengenai pemulihan situasi politik umum, situasi keamanan di Timur Laut Asia, menciptakan stabilitas dan keamanan yang penting untuk semua pihak, termasuk bagi Korea Utara sebagai negara di kawasan,” kata sang dubes.

Penciptaan lingkungan tersebut, menurutnya, tidak hanya bergantung kepada Korea Utara, tetapi juga dari negara lain.

“Oleh karena itu, berbagai tindakan yang secara resmi berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan kepemimpinan Korea Utara terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB, menjadi lebih dari sekadar reaksi terhadap pelanggaran tersebut. Hal ini menciptakan sejumlah tantangan untuk memastikan keamanan negara-negara lain, termasuk Rusia dan Tiongkok,” kata sang duta besar.

Menurutnya, permasalahan terletak mengenai sistem THAAD milik Amerika yang dianggap sebagai ancaman khusus bagi Tiongkok dan Rusia.

“Dalam hal ini, bersama dengan Tiongkok, kami berkonsolidasi melanjutkan proses yang kami harap akan membantu mengatasi situasi untuk kepentingan semua pihak yang tidak setuju dengan pembangunan sistem pertahanan rudal di Timur Laut Asia,” kata Deninsov.

Pertama kali dipublikasikan oleh RIA Novosti.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.