Penduduk Damaskus: Rusia Datang untuk Selamatkan Suriah

Pada akhirnya, rakyat Suriah memahami bahwa tujuan utama pasukan Rusia telah tercapai.

Setelah hampir enam bulan melakukan serangan udara terhadap kelompok teroris di Suriah, Moskow akhirnya menarik sebagian besar pasukan udaranya dari negara tersebut pada Selasa (15/3) lalu. Atas keputusan tersebut, ternyata reaksi pertama dari rakyat Suriah adalah rasa takut. Namun pada akhirnya, rakyat Suriah memahami bahwa tujuan utama pasukan Rusia telah tercapai. Demikian hal tersebut diungkapkan media Rusia Sputnik, Jumat (18/3).

Setelah mencapai kesepakatan dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad, pada Senin (14/3), Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan penarikan bagian utama kelompok Angkatan Udara Rusia di Suriah, dengan alasan bahwa pasukan Rusia secara umum telah berhasil menyelesaikan misi yang ditetapkan. Namun demikian, pangkalan udara di Hmeimim dan di Tartus akan terus beroperasi.

"Saya harap ini adalah bukan berita buruk. Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Saya pikir teman-teman saya akan sepakat bahwa pada awalnya kami merasa takut," kata seorang mayor pensiunan Tentara Suriah.

Lara Al-Hudr, seorang warga dari sebuah kota tua di distrik Kristen mengatakan, "Dalam beberapa menit pertama setelah mendengar berita itu (penarikan pasukan Rusia -red.), saya merasa panik dan takut. Namun, setelah menimbang situasi di Suriah saat ini, saya bisa mengatakan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana. Sejak awal, Rusia memang mengatakan bahwa operasi ini akan berlangsung sekitar enam bulan. Akhir bulan ini, operasi itu akan tepat berjalan selama setengah tahun."

Lebih lanjut, Lara mengatakan, "Anda dapat melihat bahwa Suriah kini telah jauh lebih tenang. Saya bisa pergi berkeliling di sekitar Homs, bahkan pada malam hari. Kami harus percaya kepada kepemimpinan Suriah dan Rusia."

Sementara, menurut seorang letnan yang diminta Sputnik untuk berbagi pandangannya terkait keputusan Rusia di Suriah, ia mengatakan, "Tentara kami telah berperang selama lima tahun. Ya, kami lelah, tetapi musuh kami juga lelah. Kami siap untuk melawan. Rusia telah sangat membantu. Tapi ini adalah perang kami. Saya yakin bahwa jika orang Turki atau Arab Saudi menyerang kami, Rusia tidak akan meninggalkan kami. Persahabatan kami dibangun selama berabad-abad."

"Rusia datang untuk menyelamatkan Suriah pada masa yang sangat sulit. Rusia telah membawa Suriah mendekati akhir peperangan, tapi saya benar-benar ingin melihat pesawat Rusia terbang sampai teroris terakhir mati," kata seorang pemilik toko barang antik.

"Presiden Rusia sekali lagi mengejutkan dunia. Ya, kami terkejut, tapi saya yakin bahwa Amerika Serikat, Turki, dan yang lainnya sangat bingung, dan ini terjadi tepat sebelum dimulainya perundingan di Jenewa. Pesawat (Rusia) dapat dikirim kembali setiap saat, tetapi kesepakatan harus dicapai sesegera mungkin," kata seorang tukang pangkas rambut.

Sputnik menulis, titik balik dalam perang melawan ISIS direncanakan akan terjadi di Tadmur. Pembebasan kota kuno tersebut akan membuka kemungkinan untuk mentransfer pasukan ke titik blokade di Deir ez-Zor. Ini akan membantu mengatur serangan terhadap kota yang disebut sebagai ibu kota teroris: Raqqa.

Pada awal tahun ini, kelompok teroris berhasil melaksanakan serangkaian serangan besar, yang menewaskan hampir 200 warga sipil. Namun, stabilisasi situasi sebagai akibat dari gencatan senjata berhasil mendorong dan memberikan harapan kepada Suriah untuk percaya bahwa perdamaian bukanlah suatu hal yang mustahil dan bisa tercapai dalam waktu dekat.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.