Situasi Berbalik, Media Sebut AS Ikuti Kepemimpinan Rusia Selama di Suriah

Rusia dapat bertindak tegas bila diperlukan.

Presiden AS Barack Obama telah berjanji untuk menghancurkan ISIS dan membawa perdamaian ke Suriah. Namun, ternyata Moskowlah yang telah memainkan peran kunci dalam mengamankan gencatan senjata nasional dan meluncurkan pembicaraan damai, bukan Washington. Demikian hal tersebut ditulis media Rusia Sputnik.

"Terbukti, dukungan Obama atas inisiatif ini sangat penting. Namun di Suriah, AS jelas telah mengikuti kepemimpinan Rusia," tulis surat kabar Hindustan Times.

Surar kabar India tersebut berpendapat, pemimpin AS telah mempertimbangkan kembali prinsip inti strateginya di Suriah. Meskipun AS berkali-kali mengatakan bahwa Bashar al-Assad harus meninggalkan kursi kepemimpinannya, pada akhirnya pemerintahan Obama tak lagi menegaskan bahwa ini merupakan prasyarat untuk menjalankan proses perdamaian.

Harian tersebut juga menyebutkan bahwa Rusia dapat bertindak tegas bila diperlukan.

"Sementara Washington telah kecut hati atas kemungkinan adanya intervensi pasukan darat, Moskow pergi ke garis depan, memimpin, dan kini menentukan bagaimana 'alur cerita' di Suriah dinarasikan," tulis surat kabar tersebut menegaskan. "Langkah (Moskow) ini tidak hanya melindungi Assad, tetapi juga menempatkan ISIS, al-Qaeda, dan kelompok militan lainnya ke dalam posisi yang sulit."

Sejak Rusia mengerahkan militernya ke Suriah, ISIS dan organisasi teroris lainnya yang mencoba untuk mendirikan negara Islam di atas negara multietnis dan multikepercayaan tersebut telah menderita kerugian besar akibat peperangan. Awal pekan ini, IHS Jane melaporkan bahwa ISIS telah kehilangan 22 persen dari wilayahnya dalam 15 bulan terakhir.

Selain itu, kelompok tersebut juga telah berjuang secara finansial demi kelangsungan 'hidup' mereka, dengan berbagai kenaikan pajak, kenaikan biaya jasa yang dikelola organisasi teroris tersebut, serta pemotongan gaji yang dibayarkan kepada para pejuangnya secara signifikan hingga 50 persen, tulis IHS Jane memperinci.

Rusia juga telah membuktikan bahwa negara tersebut mampu melaksanakan kampanye yang efisien dalam ruang lingkup dan waktu yang terbatas. Pada Senin (14/3), Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa sebagian besar pasukan Rusia di Suriah akan ditarik karena operasi militer dinilai telah mencapai sasarannya.

"Pengumuman Putin sangat penting karena ini mematahkan keraguan yang kerap diungkapkan oleh AS, Eropa, dan negara-negara Sunni di Asia Barat, bahwa satu-satunya alasan intervensi Rusia di Suriah adalah untuk menghentikan kejatuhan Assad," tulis Hindustan Times.

Harian tersebut menambahkan, pengumuman itu pun penting karena menunjukkan bahwa Suriah tidak menjadi Afghanistan kedua untuk Rusia sekalipun banyak yang memprediksikan demikian. Bagi Rusia, Washington secara umum tidak berhasil menyelesaikan strategi yang layak atas keterlibatan militernya di Afghanistan dan Irak, tulis Hindustan Times menyimpulkan.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.