Penarikan Pasukan Rusia, 'Sinyal' bagi Negara Lain untuk Tinggalkan Suriah

Rusia menghormati kedaulatan Suriah.

Keputusan Moskow untuk menarik pasukan udaranya dari Suriah adalah sinyal kepada pasukan asing lainnya untuk turut meninggalkan negara itu. Demikian hal tersebut dikatakan Samir Aita, anggota partai oposisi Forum Demokratik Suriah, kepada Sputnik.

"Ini adalah sinyal kepada banyak pasukan asing lainnya untuk juga meninggalkan Suriah demi menghentikan peperangan," kata Aita.

"Langkah yang diambil Rusia menunjukkan bahwa kesepakatan penghentian pertikaian yang dicapai Rusia dan Amerika dan dinegosiasikam dengan DK PBB telah diterapkan lebih dari yang diharapkan," tambah Aita.

Pada tanggal 22 Februari, Rusia dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan terkait gencatan senjata di Suriah, yang mulai berlaku lima hari kemudian.

Kepada Sputnik, Aita juga memuji sikap Rusia yang menghormati kedaulatan Suriah.

"Ini juga merupakan sinyal bahwa Rusia menghormati kedaulatan Suriah dan sekaligus sinyal bagi negara-negara lain agar juga menghormati kedaulatan negara kami," kata Aita.

Menurut Aita, penarikan pasukan Rusia merupakan sinyal kepada Presiden Suriah Bashar Assad bahwa Rusia tidak akan mendukung sang presiden tanpa syarat.

"Dia (Assad) harus membuat kompromi. Dia harus membuat kompromi dan Rusia tidak akan bertindak untuk kepentingannya sendiri. Langkah ini akan memiliki efek positif pada pembicaraan damai di Jenewa," kata Aita.

Rusia telah melakukan operasi antiteror di Suriah sejak 30 September 2015, menyusul permintaan resmi Presiden Suriah Bashar al-Assad. Pasukan udara Rusia telah beroperasi melawan kelompok teroris di Suriah. Beberapa serangan terhadap teroris juga dilancarkan oleh Angkatan Laut Rusia.

Pada Senin (14/3) malam, layanan pers Kremlin mengumumkan bahwa setelah percakapan telepon antara Presiden Putin dan Presiden Bashar Assad, kedua pemimpin sepakat untuk menarik bagian utama Pasukan Kedirgantaraan Rusia dari negara tersebut. Hal ini dilakukan karena Angkatan Bersenjata Rusia dianggap telah memenuhi misi fundamental yang telah ditugaskan kepada mereka.

Namun demikian, Rusia tetap akan menjaga pusat kontrol penerbangan udara di Suriah untuk memantau pelaksanaan rezim gencatan senjata, kata Kremlin.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu diperintahkan untuk menarik pasukan Rusia dari Suriah mulai 15 Maret 2016.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.