Media Prancis: Rusia Buktikan Dirinya Sebagai Pemain Kunci di Timur Tengah

Rusia telah menunjukkan bahwa ia memegang peran penting di Timur Tengah dengan operasi militer di Suriah.

Rusia telah menunjukkan bahwa ia memegang peran penting di Timur Tengah dengan operasi militer di Suriah. Demikian para ahli Prancis berpendapat. Evaluasi para ahli tersebut dilansir oleh media Prancis L'Express.

Menganalisis keputusan presiden Rusia atas penarikan Angkatan Udara Rusia dari Suriah, para ilmuwan politik ini mencoba menemukan jawaban atas maksud dari keputusan tersebut.

Pertama, seperti yang dipublikasikan L'Express, Moskow membuktikan pentingnya peran Rusia di kancah internasional. Rusia berhasil mempertahankan kekuasaan Presiden Suriah Bashar al-Assad, “Rusia menunjukkan bahwa dirinya adalah pemain kunci di Timur Tengah,” kata ahli Suriah sekaligus pengamat politik Ziad Majed.

“Rusia ingin menunjukkan bahwa ia bukan hanya menjadi kekuatan regional, seperti apa yang dikatakan Barack Obama. Moskow berhasil menunjukkan kemampuan militernya, membuktikan kepada negara-negara Barat bahwa keseimbangan kekuasaan telah berubah,” kata ahli politik luar negeri Rusia yang juga tergabung pada Yayasan Penelitian Strategis Paris Isabelle Facon.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Majed, penarikan pasukan Rusia dari Suriah kemungkinan memiliki nada simbolik, seperti yang Putin umumkan pada malam peringatan lima tahun pemberontakan di Suriah, serta pada hari dimulainya kembali perundingan di Jenewa. Menurut pengamat lainnya, Putin menunjukkan bahwa ia adalah mitra yang bijaksana, yang siap untuk terlibat dalam dialog dengan semua pihak: mulai dari Iran hingga Israel.

Kedua, penarikan pasukan dari Suriah bukan berarti kekalahan bagi pasukan Rusia. Sebaliknya, Rusia ingin menunjukkan keinginannya untuk tidak terus menggunakan senjata, Rusia dapat memperkuat posisinya di kalangan warga Eropa yang ingin melanjutkan dialog dengan Moskow. Demikian Facon berpendapat.

Ketiga, dengan penarikan pasukan dari Suriah, Rusia mengirimkan sinyal kepada pemimpin Suriah mengenai keinginannya yang bertentangan dengan tujuan Kremlin. Dalam artikel tersebut, dituliskan bahwa ketika Assad mengumumkan niatnya untuk mendapatkan kembali kontrol atas Suriah, Duta Besar Rusia untuk PBB Viltaly Churkin tidak setuju dengan posisi presiden Suriah tersebut. Selain itu, seperti yang diingatkan kembali oleh Majed, terkait reaksi pertama Rusia pada pengumuman yang disampaikan oleh Assad mengenai pemilihan parlemen, Rusia menyampaikan bahwa pemilihan parlemen harus diadakan setelah penandatanganan perjanjian antara rezim dan oposisi selama masa transisi.

Keempat, menurut para analis, keputusan penarikan pasukan Rusia tersebut mungkin karena alasan internal. Dukungan untuk operasi di Suriah selama lebih dari lima bulan jelas telah mempengaruhi anggaran Rusia secara signifikan.

Namun, surat kabar Prancis tersebut melansir bahwa penjelasan mengenai keputusan ini tidak jelas. Rusia, tentu saja akan mempertahankan kehadirannya di pangkalan militer di Tartus dan Pangkalan Udara Hmeimim, serta tetap menempatkan sistem rudal S-400 di Suriah. Namun hingga saat ini, belum jelas apakah Rusia akan melanjutkan operasinya atau tidak.

Pertama kali dipublikasikan oleh RIA Novosti.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.