Diprediksi Jadi Kekuatan Ekonomi Dunia, RI Perlu Kerja Sama dengan Rusia

Indonesia diramalkan menjadi negara maju dengan pendapatan sekitar 24 ribu dolar AS per kapita pada 2050 berdasarkan riset The Economist 2012.

Indonesia diramalkan menjadi negara maju dengan pendapatan sekitar 24 ribu dolar AS per kapita pada 2050 berdasarkan riset The Economist 2012.

Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia
Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu negara ekonomi terkuat di dunia. Karena itu, kerja sama dengan Rusia dianggap penting untuk mencapai hal tersebut, kata Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Irman Gusman.

Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu negara ekonomi terkuat di dunia. Untuk merealisasikan hal tersebut, kerja sama dengan Rusia dianggap penting. Demikian hal tersebut diungkapkan Ketua DPD RI Irman Gusman selama pertemuannya dengan Wakil Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia Nikolay Vasilievich Fyodorov di Jakarta, Senin (14/3).

Indonesia diramalkan menjadi negara maju dengan pendapatan sekitar 24 ribu dolar AS per kapita pada 2050 berdasarkan riset The Economist 2012. Berdasarkan riset McKinsey Institute, Indonesia akan masuk dalam tujuh besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030, mengalahkan Jerman dan Inggris.

“Untuk mencapai hal tersebut, kerja sama dengan Rusia sangatlah perlu,” kata Irman sebagaimana yang dikutip dari siaran pers DPD RI.

Dalam pertemuan tersebut, Irman juga membahas mengenai peningkatan kerja sama di bidangan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan pertahanan. Ketua DPD juga berharap pemerintah Rusia mampu menarik investor-investor lainnya untuk masuk dan bersama-sama meningkatkan kerja sama dengan Indonesia. Salah satu proyek yang saat ini tengah dijalankan adalah proyek pembangunan jalur kereta api di Kalimantan.

Hal serupa juga sempat dibahas pada pertemuan Fyodorov dengan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan. Menurut Zulkifli, Presiden RI Joko Widodo tengah giat menjalin hubungan dengan Rusia.

“Dalam rapat konsultasi pimpinan lembaga negara, kami akan sampaikan pentingnya peningkatan kerja sama dengan Rusia,” kata Zulkifli, sebagaimana yang dikutip dari siaran pers MPR RI.

Selain itu, Zulkifli juga menyampaikan dukungannya kepada Presiden Jokowi untuk sungguh-sungguh meningkatkan kerja sama kedua negara. “Rusia tidak perlu khawatir, karena kami (MPR) akan mendukung,” katanya meyakini.

Dalam kesempatan itu, delegasi Rusia menjelaskan bahwa kerja sama bilateral akan dibicarakan secara mendetail pada kunjungan Presiden Jokowi ke Rusia dalam rangka memperingati 20 tahun dialog kemitraan Rusia-ASEAN yang akan diadakan di Sochi pada Mei mendatang.

Menurut Fyodorov, pihak Rusia saat ini sudah menyiapkan beberapa draf kerja sama yang siap ditandatangani. Berbagai draf yang telah disiapkan tersebut di antaranya adalah draf kerja sama di bidang kesehatan, informasi dan komunikasi, tanggap darurat, pemberantasan kejahatan transnasional, dan alutsista.

Fyodorov berharap, draf yang sudah dipersiapkan tersebut dapat segera ditindaklanjuti.

Kejar Target Volume Perdagangan

Pada Selasa (15/3), Fyodorov beserta delegasi Rusia lainnya menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Merdeka Utara, Jakarta. Pada pertemuan tersebut, kedua pihak membahas mengenai peningkatan kerja sama di bidang perdagangan, investasi, pendidikan, pariwisata, dan energi.

Pada kesempatan itu, Jusuf Kalla menyatakan dukungannya pada penguatan kerja sama bilateral antara pemerintah Indonesia dan Rusia.

Pada tahun 2014, Rusia mengimpor hampir sekitar 750 ribu ton minyak kelapa sawit. Pemasok terbesar minyak sawit di Rusia adalah Indonesia, sedangkan Malaysia berada di posisi kedua.

“Kerja sama Indonesia-Rusia memang harus ditingkatkan. Masih banyak peluang kerja sama yang dapat direalisasikan. Indonesia menghasilkan kelapa sawit, perikanan, dan produk-produk pertanian yang dibutuhkan Rusia. Namun, Indonesia juga mengimpor alat-alat pertahanan dan teknologi dari Rusia,” ujar Jusuf Kalla, sebagaimana yang dikutip dari siaran pers situs Wakil Presiden Indonesia.

Fyodorov menyampaikan bahwa saat ini pemerintah Rusia terus berupaya meningkatkan volume perdagangan antar kedua negara.

“Saat ini volume perdagangan baru mencapai 2 hingga 2,5 miliar dolar AS. Ke depan, harus ada peningkatan setidaknya hingga 5 miliar dolar AS,” kata Fyodorov.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.